Oleh M Badri
Barang siapa dikutuk menjadi penyair
Wajiblah menziarahi Raja Ali Haji
Barangkali kalimat itu suatu saat nanti akan terselip di antara lembaran halaman buku-buku yang membahas Gurindam Duabelas. Nama besar Raja Ali Haji (1808 -1873) mempunyai magnet bagi para penyair––dan seniman lainnya––untuk datang ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Sehingga banyak penyair datang ke Pulau Bintan lalu menyeberang ke Pulau Penyengat, hanya untuk melihat sebuah perkampungan dengan banyak peninggalan kejayaan masa lalu kerajaan Melayu. Salah satunya adalah makam Raja Ali Haji, seorang budayawan di gerbang abad XX (begitu ditulis Hasan Junus), yang terpinggirkan di antara makam-makam kerabat kerajaan. Sampai Hasan Aspahani, seorang penyair nasional dari Kepri, sehari setelah perhelatan BAF selesai, langsung menulis larik puisi: “…Siapa pujangga dikubur di luar kubah istana/ Kita faham, syair tak bisa memindah letak makam...”
BAF yang tahun ini sudah memasuki tahun ketujuh merupakan perhelatan akbar yang digelar seniman Kepri. Tak tangung-tanggung, panitia dari tahun ke tahun banyak mengundang seniman nasional maupun internasional untuk memeriahkan acara tersebut. Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Rendra, Putu Wijaya, Joko Pinurbo, Butet Kertarejasa, Nano Riantiarno, Marhalim Zaini, Johanes Sugianto, adalah beberapa nama di antara sekian banyak seniman ternama yang pernah datang ke Tanjungpinang, yang juga kampung halaman “presiden penyair” Sutardji Calzoum Bachri. Tahun ini yang menjadi starring (begitu panitia menyebutnya) adalah penyair dan novelis Sitok Srengenge dari
Selain menampilkan seniman Tanjungpinang, Lingga, Karimun dan Batam, BAF juga menghadirkan beberapa seniman dari luar Kepri seperti Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Thailand dan Singapura. Saya sendiri diundang panitia BAF sebagai penerima Raja Ali Haji Award pertama kalinya, karena puisi “Ayat-ayat Penyengat” ditabalkan sebagai pemenang pertama kontes penulisan puisi nasional bertema “Tafsir Bebas Gurindam Duabelas”. Bersama saya juga diundang pemenang lainnya, penyair kawakan dari
BAF yang merupakan metamorfosis dari Bintan Zapin Festival, menurut saya merupakan bentuk lain dari kegelisahan seniman Kepri selama ini. Setelah Kepri berpisah dengan Provinsi Riau karena dimekarkan menjadi provinsi sendiri, secara tidak langsung para seniman Kepri harus membuat identitas kebudayaan sendiri meskipun akarnya tetap saya, budaya Melayu. Kegelisahan itu kemudian dituangkan sejumlah seniman, terutama sastrawan Hoesnizar Hood dan para awak Dewan Kesenian Kepulauan Riau, dalam bentuk festival tahunan yang gaungnya hingga ke mancanegara.
Meskipun dengan kondisi seadanya, tanpa gedung kesenian dan properti yang memadai, tetapi BAF terbilang sukses dan konsisten diselenggarakan setiap tahun. Manajemen acara yang diterapkan panitia merupakan kunci keberhasilan acara tersebut. Sehingga dari tahun ke tahun, selalu ada yang baru dari BAF. Selain menjadi panggung apresiasi, BAF juga menjadi ajang interaksi seniman Kepri dan daerah lain. Saya dan (mungkin juga) Sitok Srengenge, yang sama-sama baru pertama kali datang ke Tanjungpinang, kalau tidak menghadiri BAF barangkali belum bertemu penulis-penulis Kepri seperti Hoeszinar Hood, Hasan Aspahani, Hendri Anak Rahman, Abdul Kadir Ibrahim, Aswandi Syahri, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, dan lainnya. Meskipun nama-nama tersebut sudah tidak asing lagi, karena kerap berunculan di media
Lautan Manusia di Ocean Corner
Tidak salah kalau Tanjungpinang dijuluki “Kota Gurindam”. Besarnya perhatian masyarakat terhadap kesenian terlihat pada malam pertunjukan BAF, 2 – 3 November 2007. Kurang lebih seribu penonton memadati panggung terbuka di Ocean Corner, yang langsung menghadap laut. Suasana tersebut seakan ingin membuktikan kepada dunia bahwa dari gugusan kepulauan itu telah banyak seniman besar tumbuh. Selain Raja Ali Haji, setidaknya Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Sutardji Calzoum Bachri dan Hasan Junus banyak melahirkan karya sastra setelah intens bercumbu dengan asin laut di kepulauan itu.
Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, saat membuka acara tersebut menjawab (atau malah menambah) kegelisahan seniman. Janji untuk membangun gedung kesenian yang dijadwalkan selesai dua tahun mendatang salah satunya. Satu kegelisahan terjawab sudah, Kepri akan memiliki gedung kesenian. Kegelisahan lain muncul, karena gedung kesenian akan dibangun di Dompak yang konon katanya jauh dari pusat peradaban. Membaca tulisan Hoesnizar Hood dalam kolom “Temberang” di Batam Pos (Minggu, 4 November 2007), seakan kegelisahan itu tertuang dalam penggalan kalimatnya, “
Melupakan sejenak kegelisahan kawan-kawan seniman Kepri, acara dilanjutkan dengan pemberian cenderamata kepada para seniman yang berjasa atas terselenggaranya BAF 2007 dan menyerahan Raja Ali Haji Award kepada para pemenang. Kemudian pertunjukan diawali dengan pembacaan puisi oleh M Badri (Bogor/Pekanbaru) yang menampilkan puisi Kuambil Rembulan yang Tumbuh di Dadamu, Laut Limbah dan Lalu Lambungpun Membusung. Berselingan dengan suguhan musik dan tarian dari beberapa daerah dan mancanegara, Sitok Srengenge (
Pada hari kedua BAF, siangnya diisi dengan perbincangan budaya bertema “Pengaruh SEZ Terhadap Budaya Lokal” dengan pembicara Zamzami A. Karim (Tanjungpinang), Samson Rambah Pasir (Batam) dan Agung Bhakti Pratomo (Universitas Paramadina Jakarta). Baru pada malam kedua BAF yang merupakan puncak acara, para seniman menyihir penonton yang jumlahnya semakin membludak. Sitok Srengenge menghipnotis dengan beberapa puisinya yang dibaca tanpa teks. Sitok yang menjadi starring pada BAF 2007 dikenal sebagai penyair yang sudah
Kemudian Hasan Aspahani memukau penonton dengan puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu yang diawali dengan mantera “Leherku batang getah, menorehkan darah” yang menggelegar. Begitu juga dengan Samson Rambah Pasir dan Hoesnizar Hood yang membacakan puisi dari buku “Tempuling” karya Rida K Liamsi, hingga membius penonton sampai akhir acara. Tak kalah dengan penyair, para penari, pemusik, pemain teater juga membuat gegap gempita panggung terbuka di pinggiran Tanjungpinang tersebut.
Selesai perhelatan BAF 2007, kegelisahan seniman muncul kembali. Bisakah tahun depan BAF menghadirkan gelombang lautan manusia lebih besar di tempat itu? Kalau kemudian gedung kesenian jadi di bangun di Dompak, mungkinkah gegap gempita seperti di Ocean Corner masih terjadi? Apapun bentuknya, kegelisahan selalu memberi spirit kepada seniman untuk berkarya. Terlepas dari kegelisahan tersebut, magnet Raja Ali Haji akan terus menarik para penyair
Ketika membaca beberapa tulisan, kadang juga mengamati langsung, saya melihat masih banyak yang belum memahami esensi dari sebuah komunitas. Meskipun komunitas adalah sekumpulan orang-orang, bukan berarti komunitas sastra merupakan ajang pengumpulan orang sebanyak-banyaknya dalam sebuah lingkaran kata: sastra, penulis, pena, dan sebagainya. Terlebih bila pengumpulan orang-orang tanpa melihat motif dan tujuan berkomunitas, apakah ingin berproses kreatif, sekadar meramaikan, atau menebar kepentingan (tertentu).
Apa arti sebuah komunitas sastra, bila orang-orang di dalamnya kebanyakan tidak mempunyai motivasi untuk berkarya? Saya memandang ini lebih kepada makna berkomunitas. Sebab hasil akhir dari para peminat sastra (terutama penulis pemula) adalah menghasilkan karya, bukan sekadar seremonial belaka. Bila sebuah komunitas sastra tak mampu menunjukkan karyanya, komunitas tersebut tak lebih dari mobilisasi massa.
Dalam pandangan saya, penggambaran tentang komunitas sastra bisa sangat sederhana, misalnya beberapa orang berkumpul pada suatu siang di galeri buku, atau suatu malam di bawah kolong jembatan. Dengan beberapa gelas kopi dan sebungkus rokok ––bungkusan gorengan juga barangkali. Membawa beragam ide dan pikiran untuk didiskusikan atau ditumpahkan. Bisa juga sangat wah, seperti di sebuah ruangan hotel dengan suasana yang serba mewah. Anggotanya juga mencapai puluhan orang dengan beragam latar belakang dan motif berkomunitas yang dibawa masing-masing individu.
Dari beberapa kali berkomunikasi dengan rekan-rekan penulis yang berkomunitas, saya kemudian memandang komunitas menjadi lebih simpel lagi: mengobrol dan menulis. Kadang hanya di kamar sempit berbau apak, di warung kopi sederhana, di toko buku kecil, di ruang maya, juga di ruang terbuka dan selalu berpindah-pindah. Tetapi para pegiatnya menampakkan eksistensinya, dengan menampilkan karya kreatifnya di sejumlah media massa. Menunjukkan kemampuannya melalui berbagai sayembara.
Namun bagaimanapun bentuknya, tentunya komunitas sastra merupakan sekumpulan orang yang tahu (atau ingin tahu) tentang sastra dengan melibatkan diri pada berbagai aktivitas sastra. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh pegiat komunitas sastra, dari diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan. Kadang hanya sekadar menggosip tentang individu-individu sastrawan atau menjadi ajang “pengujian” karya sebelum dikirimkan ke media massa, untuk mendapat pengakuan publik melalui perantara redaktur budaya.
Di sinilah kemudian muncul pertanyaan sederhana tadi, apakah komunitas sastra merupakan forum untuk memobilisasi karya atau memobilisasi massa? Kalau saya berpendapat, tidak ada yang lebih penting dari sebuah komunitas sastra selain memobilisasi karya dengan menulis dan menghasilkan karya-karya kreatif. Sedangkan mobilisasi massa, biarlah itu dilakukan ormas-ormas yang jumlahnya tentu jauh lebih banyak dari jumlah komunitas sastra. Tapi kalau kedua-duanya bisa digabungkan tentu suatu prestasi tersendiri ––atau masalah sendiri. Sebagai gambaran, misalnya sebuah komunitas penulis di suatu tempat jumlah pengurusnya diasumsikan sepuluh persen dari jumlah anggota. Bisa dibayangkan bila jumlah pengurusnya saja mencapai puluhan orang, berapa banyak karya yang dihasilkan (seandainya motifnya untuk berkarya) para anggotanya.
Keberadaan komunitas sastra memang sangat berpengaruh terhadap proses kreatif anggotanya. Karena biasanya dalam komunitas terjadi persinggungan kreatif, saling belajar, saling kritik dan sebagainya. Melalui proses tersebut kemudian akan lahir karya-karya yang bernas, penulis yang diperhitungkan, dan lebih penting lagi tetap terjaganya gairah untuk berkarya. Tetapi, kadang keberadaan komunitas sastra hanya menguntungkan individu-individu tertentu, tokoh-tokoh tertentu, semisal ketuanya atau donaturnya. Kalau yang terakhir ini, sebuah komunitas cenderung menjadi “alat” orang-orang yang berkepentingan, bukan menjadi “forum” bersama untuk berproses kreatif.
Karena komunitas sastra tidak sama dengan ormas, tentunya tujuan dari komunitas sastra adalah bagaimana sukses bersama dalam berkarya. Sehingga publik sastra tidak teracuni oleh ideologi-ideologi tertentu di luar konteks sastra yang membawa bendera sastra. Sebab dalam sastra sendiri telah terjadi kecenderungan pengkotak-kotakan, antara moralis dan liberalis, kanan dan kiri, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan timbulnya sekat-sekat, pertentangan yang mengarah pada permusuhan, bukan malah memunculkan perdebatan yang sehat untuk menemukan muara sastra yang universal. Apa jadinya bila kepentingan di luar sastra (terlebih tidak memahami sastra) turut ambil bagian dalam polemik tersebut.
Esensi Komunitas
Kalau ditanya apakah yang dibutuhkan publik sastra dari komunitas, jumlah karya atau anggotanya? Saya yakin, dengan akal sehat, semua akan sepakat karya lebih penting dari orang-orangnya. Bahkan seringkali publik mengenal karyanya daripada penulisnya. Itulah realitas dari dunia tulis-menulis, dunia sastra dengan segala warnanya. Bahwa tidak ada yang lebih penting dari karya. Hal ini juga diakui oleh sastrawan sekaliber Joni Ariadinata beberapa waktu lalu, dalam suatu perbincangan sastra di Pekanbaru. Pengakuan legalitas organisasi (seperti SK dan atribut) tidak penting bagi penulis, tetapi yang penting karya apa yang telah dihasilkan. Itulah perbedaan komunitas penulis dengan ormas.
Kesuksesan komunitas juga tidak ditentukan oleh figur tokohnya, nama besar organisasinya, terlebih kekuatan dananya. Sehingga pandangan tentang pentingnya faktor sastrawan seniornya, penyandang dana, campur tangan pemerintah, kemampuan lobi untuk mensukseskan acara seremonial, dalam sebuah komunitas hanyalah pemikiran sempit (juga picik). Dalam publik sastra yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kualitas karya yang dihasilkan anggota komunitasnya.
Di sini yang sering dilupakan adalah bahwa keberhasilan aktivitas kesastraan tergantung bagaimana masing-masing pribadi berproses kreatif untuk menghasilkan karya. Keberadaan komunitas hanya faktor pendukung dan penyemangat untuk terus berkarya. Sehingga percuma saja menempel di depan kebesaran nama komunitas kalau tidak berbuat apa-apa, tidak menghasilkan karya. Hanya pesta dan hura-hura. Sebab nama besar komunitas bukan menjadi jaminan kualitas karya anggotanya.
Dalam beberapa kali diskusi kadang saya heran terhadap sikap beberapa pegiat komunitas ––terutama pemula. Baru satu atau dua kali menulis sudah bisa mengukur kualitas karyanya ––tentunya dari sudut pandang pribadi dengan memakai jubah besar nama komunitas. Sehingga menggugat redaktur sastra koran atau majalah, kenapa tidak memuat karya-karyanya. Penilaian-penilaian individu seperti ini sebenarnya sah-sah saja, sepanjang untuk evaluasi terhadap karya yang telah dibuat. Bukan justru menjustifikasi bahwa karya yang telah dihasilkan sudah “luar biasa” sehingga wajib disiarkan kepada publik. Gugatan-gugatan narsisme seperti ini sebenarnya tidak perlu muncul seandainya penulis mau berkaca dengan membaca karya-karya penulis yang benar-benar luar biasa, lalu mengevaluasi karya sendiri. Bukan malah “buruk muka cermin dibelah”.
Masalah lain yang kadang timbul dalam komunitas sastra adalah munculnya virus epigon pada penulis pemula. Kecenderungan “mendewakan” sang senior atau sang guru menyebabkan keseragaman gaya penulisan. Dalam jangka pendek wajar bila murid menirukan gurunya, namun bila berkesinambungan dan menjadi indoktrinasi saya kira membawa masalah. Calon penulis tidak memiliki kebebasan menampilkan gaya atau tidak berani memunculkan karakter kepenulisannya. Inilah bila komunitas menjadi tempurung bagi katak kreativitas, bukan menjadi sungai yang mengalirkan kreativitas. Maka komunitas hanya akan kontraproduktif dan memandulkan proses kreatif anggotanya.
Esensi penting dalam berkomunitas adalah bagaimana individu-individu yang akan berkelompok membawa idealisme dan semangat masing-masing. Sebab komunitas hanya wahana untuk berkreasi, berinteraksi dan berekspresi. Dengan semangat dan idealisme, para pemula tidak terjebak pada bayang-bayang kebesaran komunitas, jumlah anggota komunitas, indoktrinasi komunitas, nama besar figur atau batas-batas kreativitas. Sehingga bisa memilih, menjadi idealis atau elitis. Maka pegiat komunitas sastra di Riau, berlomba-lombalah menghasilkan karya, bukan sekadar mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya.***
| Oleh M Badri Sumber: Riau Pos, Minggu 11 Februari 2007 | |
| Sebuah perhelatan sastra baru saja digelar sejumlah penulis muda di Taman Budaya Yogyakarta, 2 – 3 Februari 2007 kemarin. Acara yang bertajuk “Forum Penyair Muda 4 Kota (Yogyakarta, Bandung, Denpasar dan Padang)” tersebut mengusung tema “Halo Penyair Muda Daerah, Apa Kabar?”. Meskipun acara dikemas sederhana tapi lumayan membawa kesan. Diawali dengan bedah buku puisi “Herbarium” yang memuat puisi-puisi penyair muda dari empat kota, diskusi tentang peta kepenyairan dan pembacaan puisi. Secara kebetulan, saya yang saat itu sedang berada di Yogyakarta, berkesempatan menghadiri undangan “tak resmi” dari beberapa teman penyair yang punya hajatan. Karena saya sendiri berada di luar empat kota tersebut. Lantas kenapa hanya empat kota? Tanpa melihat celah etnosentrisme, barangkali para penyair muda penggagas kegiatan tersebut berupaya “melawan” mitos bahwa yang muda tidak bisa “berpesta”. Setidaknya hal itu muncul dari diskusi dengan beberapa teman penyair (muda) yang merasa bahwa hegemoni penyair “tua” masih memegang peran penting dalam berbagai perhelatan sastra di tanah air. Seolah-olah yang yang muda tidak mendapat tempat, sehingga ketika ada event sastra selalu yang itu-itu juga yang datang. Dalam konteks ini saya tidak memandang ekstrim bahwa kegiatan semacam itu merupakan “perlawanan” terhadap hegemoni penyair “tua” ––meskipun ada kecenderungan terjadi. Tetapi lebih kepada bagaimana para penyair muda dari sejumlah daerah di tanah air dapat bersilaturahmi, baik secara individu maupun proses kreatif. Memang akhir-akhir ini di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Bali, Padang, Bandung, Lampung dan sebagainya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Hal ini merupakan suatu pertanda baik dalam proses regenerasi kepenyairan di Indonesia. Petumbuhan media massa baik cetak maupun elektronik (internet) turut menjadi faktor pendukung suburnya iklim kreatif ini. Lalu bagaimana dengan Pekanbaru? Setakat ini saya belum melihat perkembangan yang menggembirakan. Itu juga seirama dengan perbincangan saya akhir tahun lalu dengan salah seorang redaktur budaya media lokal yang berkantor di Pekanbaru. Di mana hampir terjadi lost generation penulis sastra di kota Pekanbaru. Dalam konteks ini barangkali saya akan memfokuskan pada regenerasi kepenyairan yang akhir-akhir ini nyaris tidak ada perkembangan. Melihat kondisi bersastra yang kurang bergairah itu, tidak heran bila penyair-penyair muda Pekanbaru masih kurang mendapat tempat di kalangan penyair-penyair muda nusantara. Permasalahannya bukan terletak pada kualitas, tetapi lebih pada kuantitas yang dewasa ini cenderung menurun. Dalam hal persentuhan kreatif antarpenyair muda pun, saya melihat penyair muda Pekanbaru masih kurang “gaul”. Hal ini cukup beralasan karena ketika menjelajahi forum-forum diskusi sastra melalui berbagai media maya, hanya segelintir nama yang saya lihat ikut nimbrung. Padahal saat ini persinggungan kreatif antarpenyair-penyair muda sering dilakukan melalui berbagai milis atau forum diskusi di situs-situs sastra. Berbagai infromasi tentang perlombaan maupun event-event sastra sering kali muncul melalui media tersebut. Di sini yang perlu dicatat bahwa meskipun ingin bermain dengan lokalitas, tapi untuk menunjukkan eksistensinya di ruang publik tetap perlu berpikir global. Sebab dari situ kemudian sering muncul gagasan dan pertemuan yang melahirkan suatu agenda sastra. Salah satunya forum penyair muda yang saya sebut di atas. Sebagai pegiat sastra yang tumbuh dan berkembang di Pekanbaru saya merasa mempunyai beban moral untuk “memprovokasi” para penyair muda yang sedang tumbuh untuk segera meramaikan khasanah sastra nusantara. Sehingga kejayaan penyair muda Pekanbaru (atau lebih luasnya Riau) bukan hanya sekadar romantisme masa lalu, tetapi harus terus berlanjut hingga kini. Beban sejarah bahasa Melayu sebagai “akar bahasa” seyogianya menjadi api pemantik untuk terus berkreatifitas. Berbagai media massa (dengan rubrik sastranya) yang ada di Pekanbaru saya kira cukup memadai sebagai medium untuk mengasah kreativitas dan kualitas karya. Ini sebenarnya merupakan suatu peluang mengingat jumlah media-media lokal yang menyediakan rubrik sastra di Pekanbaru relatif lebih banyak dibandingkan daerah lain. Tetapi kalau masalahnya terletak pada besarnya honorarium sebagai penghargaan terhadap penulis, barangkali hal itu perlu didiskusikan lebih lanjut dengan pemilik media. Sebab perkembangan bersastra tidak lepas dari ketersediaan media sebagai wadah publikasi karya-karya sastra. Di sinilah sebenarnya media massa harus mengambil peran lebih sebagai penggerak kepenyairan di Pekanbaru. Pentingkah Komunitas Sastra? Selain iklim diskusi sastra melalui “media maya” sepertinya kehadiran komunitas sastra juga dipandang perlu untuk regenerasi kepenyairan di Pekanbaru. Kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya komunitas-komunitas sastra berpeluang untuk berkembang di wilayah kampus dalam bentuk unit kegiatan mahasiswa. Tetapi tidak dapat dipungkiri komunitas yang muncul di luar kampus kadang lebih menunjukkan eksistensinya. Berbicara tentang komunitas kampus, sebenarnya di Pekanbaru yang lebih tenar cenderung komunitas teater ––sekadar menyebut nama seperti Latah Tuah (UIN), Selembayung (Unilak), Batra (Unri) dan Lisendra Dua Terbilang (UIR). Sebab komunitas-komunitas itu juga banyak memunculkan penyair-penyair muda yang cukup berbakat. Sedangkan komunitas yang murni mengusung sastra, antara lain Senapelan Writers Association (SWA) di UIR. Tapi SWA kini nyaris tanpa aktivitas, kecuali beberapa pegiatnya yang masih mencantumkan nama komunitas di biodata karyanya setiap muncul di media massa. Sedangkan komunitas di luar kampus, beberapa tahun lalu pernah muncul Komunitas Sastrawan Muda Riau (KSMR), namun sebelum sempat menunjukkan eksistensinya keburu hilang. Kini yang masih terdengar hanya Komunitas Paragraf yang digerakkan oleh sejumlah sastrawan seperti Hary B Koriun, Marhalim Zaini, Olyrinson dan Budy Utami, serta komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Lalu, di mana penyair-penyair muda-muda di bawah generasi Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, atau Jefry Al Malay? Membaca buku kumpulan cerpen dan sajak terpilih Riau Pos 2006 “Jalan Pulang”, saya belum menemukan nama-nama baru di belantara sastra Riau. Sehingga tidak heran bila rubrik sastra media lokal Pekanbaru dibanjiri penulis-penulis muda dari luar Riau. Sungguh ironis! Melihat fenomena ini sepertinya para penyair yang lebih dulu eksis (kalau tidak mau disebut tua atau senior) harus turut berpikir dan mencari jalan keluar bagi kemunculan penyair-penyair muda Pekanbaru. Kalau masalahnya pada kualitas, tentunya perlu dibudayakan pembelajaran sastra yang mengarah pada pematangan proses kreatif penulis-penulis yang baru tumbuh. Dengan memberikan motivasi dan semangat untuk berkarya serta melibatkan mereka dalam sejumlah event yang diadakan lembaga-lembaga sastra ––dewan kesenian, misalnya. Bila masalahnya pada kuantitas, tentunya perlu jejaring untuk memunculkan penyair-penyair berbakat di kampus-kampus maupun sekolah-sekolah. Saya yakin cukup banyak generasi muda yang berpotensi menjadi penyair. Hanya saja masalahnya pada ada tidaknya dorongan dan kesempatan untuk muncul di ruang publik. Memang bukan jaminan bahwa komunitas akan penghasilkan karya-karya atau penulis berkualitas. Tetapi setidaknya melalui komunitas, iklim bersastra dapat tumbuh subur melalui berbagai kegiatan diskusi maupun pengkajian karya-karya sastra yang dilakukan. Karena dalam sebuah komunitas terjadi proses interaksi kreatif dan saling memberi umpan balik antara anggota-anggotanya. Terlebih bila sering diadakan diskusi dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari kalangan penyair “senior” yang secara tidak langsung akan memacu penulis-penulis muda untuk giat berkarya. Hal ini akan mempercepat kematangan dalam bersastra dan memunculkan penulis-penulis muda. Memang itu bukan pekerjaan mudah, karena kegiatan bersastra meskipun dilakukan secara kolektif tetap saja nilai kualitas dan eksistensinya tergantung pada pergumulan kreatif masing-masing individu. Tradisi Apresiasi Puisi Selain menggerakkan kantong-kantong sastra melalui berbagai komunitas, perlu juga dibangun apresiasi sastra (terutama puisi). Apresiasi berperan mengobarkan semangat penyair-penyair muda untuk “meledakkan” karyanya. Apresiasi seperti ini antara lain saya lihat dalam kegiatan forum penyair muda di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dimana sejumlah komunitas sastra menunjukkan tradisi apresiasi sastra secara kontinyu untuk mempertahankan gairah menulis. Sebagai contoh adanya budaya pembacaan puisi berjamaah secara bergantian (semacam tadarus puisi) yang dilanjutkan dengan kritik oleh anggota-anggota lainnya. Melalui proses belajar kolektif seperti ini kemudian akan muncul karya-karya berkualitas yang siap bersaing memperebutkan posisi di ruang publik. Kemudian melihat begitu banyaknya jurusan bahasa dan sastra di sejumlah perguruan tinggi, sangat bertolak belakang dengan perkembangan kepenyairan di Pekanbaru. Apakah hal ini disebabkan karena para pengajar sastra di perguruan tinggi kebanyakan kurang apresiatif terhadap karya sastra? Saya tidak berhak memvonisnya. Tetapi pada kenyataannya, para pengajar sastra di perguruan tinggi atau sekolah-sekolah masih terbelenggu dengan hegemoni kurikulum. Sehingga kurang apresiatif terhadap perkembangan sastra kontemporer yang terus meluas. Tentunya menjadi masalah besar bila kita menginginkan pertumbuhan penyair muda tanpa didukung oleh sistem pendidikan sastra yang mumpuni. Ternyata permasalahan ini juga terjadi di sejumlah kota yang notabene sebagai pusat pendidikan sastra. Di mana tenaga pengajar sastra (juga mahasiswa jurusan sastra) jarang yang benar-benar menggeluti sastra itu sendiri secara intens. Sedangkan mereka yang bergumul dengan sastra secara teori maupun praktek lebih memilih menjadi wartawan atau editor buku daripada pengajar sastra. Kalau memang demikian, wajar saja bila generasi muda kita banyak yang tidak mencintai sastra bahkan “buta” mengenai sastra, terutama sastra yang “serius”. Fenomena ini tentunya perlu mendapat perhatian lebih dari peminat sastra, baik yang bergerak pada tataran teoritis maupun praktis. Sehingga ke depan tidak terjadi lost generation penyair-penyair muda Pekanbaru, tetapi diharapkan pertumbuhannya menggembirakan terutama untuk meramaikan kepenyairan di tanah air. Berkaca pada “Forum Penyair Muda 4 Kota” tersebut, penyair muda Pekanbaru diharapkan dapat ambil bagian dalam berbagai event sastra selanjutnya. Apa kabar penyair muda Pekanbaru? Barangkali saya tidak membutuhkan jawaban kabar baik atau kabar buruk. Tetapi lebih pada jawaban untuk sama-sama menumbuhkan kesadaran kreatif membangun budaya kepenyairan di Pekanbaru yang lebih baik.*** M Badri. Menulis cerpen, puisi, dan esai di sejumlah media massa serta beberapa kali memenangkan penghargaan sastra, terakhir pemenang pertama lomba cerpen nasional Festival Kreativitas Pemuda 2006 yang diadakan Creative Writing Institute (CWI) bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI. Sementara ini tinggal di Bogor untuk studi di program Magister Komunikasi Pembangunan IPB. Mengelola WebBlog http://negeribadri.blogspot.com |

Sihar Ramses Simatupang dalam kata pengantar buku ini mengungkapkan, menghargai tanah rantau sebagai sebuah latar cerita memang menjadi suatu keistimewaan. Selain karena faktor emosional seringkali masih terarah kepada tanah air, perasaan rindu, membuat kemasakinian yang jelas di depan mata dan di sekitar tubuh kita, menjadi lolos dari perhatian. Padahal, di sisi lain, imaji, kesan di tanah rantau (dengan obyek tanah rantau pula), justru dapat dijadikan energi dan menghasilkan kesan yang berbeda.
Ungkapan Sihar tersebut nyatanya memang membekas dalam teks sastra sebagai pengejawantahan dari kehidupan para buruh migran. Hal itu semakin terasa karena sebagian besar penulis cerpen ini berasal dari kaum hawa, di mana eksploitasi atas nama perburuhan begitu kental terasa. Coba kita putar kembali memori kita pada banyak kasus yang menjadikan buruh migran (khususnya tenaga kerja wanita) sebagai korban penindasan, eksploitasi, pemerkosaan, dan beragam cerita kelam lainnya.
Itulah yang kemudian menjelma menjadi cerita-cerita yang kini akan melengkapi rak perpustakaan kita. Karena sastra sering dikatakan sebagai bahasa universal dan mengandung “pencerahan”, maka sah-sah saja bila Nyanyian Imigran ini dikatakan sebagai pembuka mata kita, betapa nasib para buruh migran di negeri asing begitu memilukan, di balik gelimang dolar atau ringgit yang cukup menjanjikan. Persoalan luka, derita, dan cinta agaknya memang tak lepas dari relung imaji para buruh migran yang kemudian dituangkan ke dalam teks-teks dengan bahasa khas mereka. Meskipun sastra merupakan hasil dari proses imajinasi, tetapi tetap saja akarnya berasal dari realitas yang muncul di tengah kehidupan manusia ––dengan suka dukanya.
Dalam buku yang memuat 16 cerpen karya buruh migran tersebut, terlihat sekali bagaimana problem di seputar kehidupan para penulis di perantauan. Begitu juga dengan nama-nama penulisnya, barangkali masih begitu asing di ranah sastra kita. Karena sebagian besar mereka lahir dan tumbuh dari berbagai mailing list (milis) yang kini sedang mengemuka, sebagai ajang diskusi dan tukar informasi yang terbebas dari belenggu ruang dan waktu. Dan memang para penulis di buku ini––Aliyah Purwati (Selembar Kertas Buruh Harian BMI), Ann (Wan Chai), Eni Yuniar (Tuan dan Nyonya Majikan Yang Terhormat), Etik Juwita (Hatiku Kapalan), Ikrima Ghaniy (Suami), Imes Hisa (Sekuntum Bunga Tak Berbuah), Kris DS (Goresan Buat Winda), Lik Kismawati (Laki-laki dan Lukisan Burung), Mega Vristian (Gelang Giok Mama), Nining Indarti (Selingkuh), Swastika (Pahlawan Kesiangan), Tanti (Di Saat Jariku Menari), Tarini Sorrita (Hamil), Gendhotwukir (Kidung Duka Seorang Buruh), Sigit Susanto (Perempuan Tua di Bahnhof Zurich), dan Joey Sambo (Nyanyian Imigran)––adalah orang-orang yang dengan setia mengisi ruang diskusi dan pertemuan maya berbagai milis sastra, salah satunya di Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com.
Inilah hasilnya, sebuah komposisi dengan berbagai irama kepenulisan yang hadir setelah melalui perjuangan panjang lintas benua, lintas waktu, lintas kesibukan. Sampai kemudian menjadi sebuah buku bersampul merah khas kaum buruh. Sehingga komposisi teks kreatif mereka juga merupakan suatu irama yang cukup beragam dengan muasal lahirnya cerpen-cerpen ini. Sebuah prestasi tersendiri, ketika babu kemudian menulis cerpen secara berjamaah. Tepat seperti yang diungkapkan Djodi Sambodo dan Mega Vristian di halaman pembuka buku ini, bahwa mereka yang telah melintas samudera, di antara derai air mata, ancaman kematian, siksaan fisik dan batin, demi perbaikan nasib, ternyata masih bisa menyempatkan waktunya untuk menulis. Hal itu juga terucap saat berbincang-bincang dengan Lik Kismawati, salah seorang penulis dalam buku ini, yang mengungkapkan bagaimana perjuangan mereka menyelesaikan sebuah cerpen di antara kesibukan sebagai babu.
Kalau dirunutkan secara tematik, sebagaian besar cerpen ini bercerita tentang percintaan, pelecehan, penindasan, dan tak lupa perselingkungan. Lihat saja misalnya kutipan cerpen Goresan Buat Winda yang kebetulan sempat dibacakan dengan sangat liris. “Jelas! Aku sangat emosi melihat ketegaan mereka menghianati aku. Terlebih lagi bila mengingat saran mereka berdua. Mereka menyarankan agar aku mengambil cuti pulang ke Indonesia untuk membuang janin dua bulan hasil hubungan dengan Arxiank alias aborsi! Mereka mana mau tahu, betapa aku mati matian melawan maut di ruang sempit dukun beranak di perkampungan Mberiot, sebuah desa antara Malang – Blitar. Eh... Di sini mereka malah membuat tarian erotis dalam kamar hotel berbintang. Mungkin memang benar sebuah pepatah bilang, orang terdekat adalah musuh terbesar.”
Selain tema percintaan dan perselingkungan yang mewarnai romantisme buruh migran, beragam kultur bangsa lain juga muncul dalam kumpulan cerpen ini. Kehadirannya secara simbolis tergambar dalam teks-teks yang mengungkapkan tubuh, bahasa, dan tempat. Hal seperti ini memang lumrah muncul dalam karya sastra, sebab mengutip pernyataan Warih Wisatsana, inspirasi penciptaan karya diperoleh dari berbagai pertemuan, perjalanan, maupun pengahayatan karya sastrawan lain. Meskipun demikian, tetap saja karya-karya dalam cerpen ini tidak bisa lepas dari kultur asal penulisnya.
Cerpen Nyanyian Imigran Joey Sambo yang kemudian dijadikan judul sampul buku ini, agaknya mewakili sederet cerita dengan sederet misi penulisnya yang diungkapkan dengan beragam teknik dan gaya penulisan. Cerita yang dibumbui dengan berbagai karakter dan bahasa, yang kemudian diramu dengan kehidupan naas para imigran gelap di negeri Paman Sam, ini merupakan miniatur kehidupan para buruh migran dari berbagai negara dunia ketiga. Sepeti ditulis Joey di akhir cerpennya, “Akhirnya aku memahami, bahwa kehidupan imigran dengan lirik lagunya Led Zeppelin ini, kurang lebih adalah sama. Nyanyian orang-orang yang mengarungi samudera untuk menemukan tanah baru, demi perbaikan nasib. Walau tanah baru itu tidak lebih adalah bangsal kematian atau Valhalla. Atau teriakannya para imigran yang memimpikan kehidupan lebih baik di dunia Barat, ternyata hanya menuai kepahitan.”
Meskipun para cerpenis tersebut menulis di antara jam kerja dan waktu istirahat, akhirnya karya dalam buku ini dapat mewakili kerisauan mereka di tanah perantauan dan pada kampung halaman. Kerisauan mereka sepertinya memang berupa nyanyian panjang yang belum berakhir, meskipun kita berulang kali membaca 179 halaman buku ini. Karena secara tersirat buku kumpulan cerpen ini mengajak kita untuk bertamasya melihat lebih ke jauh bagaimana lembaran kehidupan para buruh migran lewat “sastra babu”. ***
M Badri adalah peminat dan penikmat sastra. Sementara ini tinggal di Bogor untuk studi di Program Magister Komunikasi Pembangunan IPB. E-mail: mas_badre@yahoo.com.
Riau Pos, Minggu, 30 Juli 2006
Apa yang Anda Cari di Rimba Pers Mahasiswa?
Pers bisa saja jadi sesuatu yang baik atau buruk,
namun tentu saja tanpa kebebasan pers, pers hanya akan jadi buruk
(Albert Camus, Filsuf, 1913-1960)
“Lho kok beruntung, Mas?” Tanya seorang teman suatu ketika. Jawaban saya simpel: sebab Anda akan memasuki rimba belantara (baca: organisasi kampus tempat menempa pikiran kritis para aktivis mahasiswa, sering juga disebut kawah candradimuka) lain dari yang lainnya. Sesuatu yang mungkin tidak Anda kenal sebelumnya. Sesuatu yang mungkin Anda anggap sepele. Sesuatu yang mungkin Anda anggap remeh. Sesuatu yang mungkin juga Anda anggap menakutkan. Dan banyak lagi sesuatu yang tidak akan pernah Anda ketahui sebelum Anda ikut berpetualang di dalamnya. Hal itu sama seperti yang saya alami ketika pertama kali mengenal persma. Banyak sekali pertanyaan yang menyelimuti benak saya yang kala itu masih terbilang innocent di dunia kampus, pengetahuan minus tentang organisasi. Sebab itulah saya mencoba (sekali lagi sekadar mencoba) alias ikut-ikutan masuk ke dalam persma. Mengikuti diklat jurnalistik dasar selama tiga hari satu malam, wuihhhh..... jenuhnya! Dijejali beragam materi diklat yang masih kita anggap aneh. Akhirnya hanya mendapatkan lelah sebab hampir semua materi hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Saya yakin hal ini juga akan Anda alami........
Lalu dengan kejenuhan itu apakah kita akan berhenti? Dan dengan selembar sertifikat diklat jurnalistik dasar sebagai upah mendengarkan materi diklat selama tiga hari satu malam, kita merasa sudah menjadi mahasiswa ‘hebat’? Sehingga tidak perlu lagi menambah wawasan dan ilmu? Hanya orang yang berpikiran kerdil, mudah puas dengan keadaan, dan tidak ingin maju saja yang melakukan hal itu. Sebab waktu tiga hari tidak cukup untuk membuka mata kita dan melihat seperti apa sich dunia jurnalistik itu sesungguhnya. Untuk mendapatkan jawabannya maka saya kembali ikut-ikutan (sekali lagi ikut-ikutan) masuk sebagai bagian dari tim redaksi persma, hanya dengan modal semangat saja. Mengapa saya sebut sebagai tim? Karena di redaksi persma tidak ada gunanya kita menonjolkan kekuatan individu. Kerja dalam timlah yang mengajarkan kepada kita bagaimana belajar hidup dalam sebuah kelompok yang masing-masing beranggotakan individu dengan beragam pemikiran berbeda. Bukan sekadar teknik menulis, teknik memburu berita dan beragam teknik lainnya (meskipun sebenarnya teknik itu tidak akan Anda dapatkan di jurusan Anda kuliah). Pada konteks ini saya berpikir, masuk ke dalam persma seperti kuliah di satu jurusan tapi mendapatkan dua disiplin ilmu sekaligus. Yang satu ya itu tadi: ILMU JURNALISTIK PRAKTIS.
Tahun pertama memang menjadi hari-hari menjenuhkan di persma. Belum punya status alias magang, tiap hari disuruh wawancara ini itu, nulis ini itu, dan segudang tetek bengek lainnya. Memang begitulah hidup di rimba: siapa yang kuat (secara mental) dialah yang akan bertahan. Dan ini menjadi pelajaran berarti bagi saya, meskipun pernah hampir go out tetapi akhirnya mampu bertahan beberapa tahun dan menjadi ‘penguasa rimba’, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Beberapa rekan seangkatan diklat, satu per satu mulai mundur karena tidak tahan menapaki semak belukar, rawa-rawa dan lolongan binatang buas sebagaimana kita berada di tengah rimba belantara. Akhirnya beberapa tahun kemudian, apa kata mereka?: SAYA MENYESAL, MENGAPA DULU KELUAR DARI PERSMA. Nah!
Penyesalan memang selalu datang belakangan. Terlebih bila mereka mengetahui bahwa orang-orang yang bertahan telah mendapatkan ‘madu’ dari kerja keras mereka selama ini. Untuk itulah penyesalan mereka semoga menjadi pelajaran berharga bagi Anda semua yang baru saja memasuki pintu gerbang rimba belantara persma. Sebab saya yakin Anda semua adalah orang-orang yang mempunyai jiwa petualang dan selalu ingin tampil inovatif. Kalau tidak, mengapa Anda harus repot-repot ikut mendaftar diklat jurnalistik? Lebih baik tidur siang di rumah dan mimpi indah. Tapi apakah hidup hanya cukup dengan mimpi? Meskipun kadang mimpi itu penting untuk merencanakan visi kita ke depan. Karena itulah saya berpikir: Anda semua yang mengikuti diklat jurnalistik adalah mahasiswa yang bermental baja dan tidak akan mundur sebelum mendapatkan ilmu yang Anda cari. Ini mungkin sebuah tantangan sederhana yang akan Anda jawab sendiri: KALAU SAYA BERHENTI DI TENGAH JALAN BERARTI SAYA TERMASUK ORANG-ORANG KALAH YANG MUDAH MENYERAH DAN TIDAK INOVATIF. Itu bukan jawaban dari saya, tetapi Anda sendiri yang akan mengatakannya nanti. Maka kalau tidak ingin mengalami penyesalan seperti rekan saya beberapa tahun lalu, Anda harus membuktikan kepada diri sendiri bahwa Anda adalah seorang petualang. Karena pada hakikatnya hidup itu sendiri adalah bagian dari petualangan, di mana hasilnya akan kita dapatkan di alam akhirat nanti.
Apa yang Anda Cari?
Itu adalah pertanyaan sederhana. Setiap orang pasti mempunyai jawaban berbeda ketika diberi pertanyaan tersebut. Apa yang saya cari? Yah, apa yang akan saya dapatkan ketika saya harus bertungkus lumus di rimba persma. Anda semua pasti mempunyai pertanyaan seperti itu kepada diri sendiri, ketika pertama kali membaca pengumuman pendaftaran diklat jurnalistik. Setelah menemukan gambaran sekilas maka Anda segera mendaftar. Dan masih dengan ketidaktahuan Anda, sekarang ini tanpa sadar Anda sudah berada di gerbang rimba persma. Bila sudah menemukan gambaran tentang apa yang akan Anda cari dari kegiatan ini, maka Anda termasuk yang beruntung. Sebab tidak sedikit yang awalnya hanya ikut-ikutan tanpa mempunyai harapan yang jelas, ya seperti saya dulu misalnya. Baru kemudian sesudah beberapa langkah masuk ke dalam mulai menemukan gambaran: OH, TERNYATA INI YANG SAYA CARI!
Tentu saja ada berbagai macam motivasi mengapa Anda mengikuti kegiatan ini. Tetapi pada dasarnya semua pasti ingin tahu lebih dulu. Secara garis besar dapat saya gambarkan tujuan Anda tersebut dalam bagan berikut ini:
Maaf bagan tidak bisa ditampilkan
Melihat bagan tersebut tentu saja Anda tahu sekarang ini berada pada posisi yang mana. Dan untuk mendapatkan jawabannya Anda harus berada di dalamnya, sebab tidak cukup bila Anda hanya melihat dari luar atau melongok dari tepinya saja. Saya hanya mengatakan Anda tidak akan menyesal berada di dalam rimba persma. Dari sanalah Anda akan mengetahui apa itu idealisme yang menjadi jantung kehidupan persma. Bagaimana Anda harus bekerja dalam sebuah tim, dituntut berpikir kritis tapi tidak anarkis. Bagaimana proses transformasi ilmu, sehingga Anda akan mendapatkan berbagai ilmu jurnalistik (reportase, penulisan, fotografi, desain grafis, periklanan dan sebagainya) yang tidak akan pernah Anda dapatkan di bangku kuliah kecuali bila Anda kuliah di Jurusan Jurnalistik atau Ilmu Komunikasi.
“Lalu bagaimana bisa menguasai semuanya, Mas?” Pertanyaan seperti itu pernah dilontarkan salah seorang junior di persma. “Anda harus aktif dan proaktif!” kata saya. “Maksudnya?” Dia masih bingung. Karena merasa perlu untuk memberikan kunci jawabannya, akhirnya saya katakan: “Anda harus menjadi orang pertama yang menyelesaikan tugas, dan jangan sekali-kali melalaikan tanggungjawab alias tidak amanah. Sebab dari sanalah transformasi ilmu itu berproses, karena keberhasilan Anda berada di tangan Anda sendiri. Anda pelajari apa yang ada di persma maka Anda akan berhasil menggali ilmu sampai sedalam-dalamnya.” Dia manggut-manggut, tapi malah curhat, “Saya sering jenuh di sini Mas, belum lagi tugas-tugas kuliah. “Anda akan jenuh kalau hanya diam dan tidak berbuat apa-apa, apa lagi kalau hanya sekali-sekali datang ke kantor persma, nongkrong sambil nonton, ogah belajar, ogah membaca dan satu ransel ogah-ogahan lainnya. Saya kira kuliah tidak akan terganggu kalau Anda bisa membagi waktu dengan baik. Apa dengan kuliah saja Anda sudah merasa pintar?”. “Iya sih...” Dia langsung ngacir ke ruang komputer sambil membawa beberapa majalah dan buku. Kadang saya sebal juga kalau mendengar kata ‘kuliah’ masih menjadi alasan yang menyebabkan mahasiswa pasif. Sebab menjadi mahasiswa saja tidak cukup, karena sekarang ini dunia kerja mencari fresh graduated yang mempunyai wawasan dan pemikiran luas serta mampu berinteraksi dalam tim. Tentunya hal itu hanya dipenuhi mahasiswa yang aktif berorganisasi (apa pun). Itu pendapat saya pribadi lho? Tapi Anda bisa membuktikannya nanti.
Kembali ke masalah persma. Anda masuk ke dalam rimba persma bukan berarti selesai kuliah Anda wajib menjadi wartawan. Tidak harus! Meskipun arah untuk menuju ke sana terbuka lebar, sebab rata-rata media massa di daerah maupun nasional selalu mengutamakan mereka yang pernah aktif di persma. Banyak hal yang bisa mendukung cita-cita Anda di kemudian hari, embrionya berasal dari persma. Apa pun bidang yang akan Anda geluti, Insya Allah dengan kematangan wawasan Anda ketika berada di persma, Anda akan menjadi orang yang diprioritaskan. Kenapa demikian? Karena di persma Anda akan dibiasakan bergaul dan mengenal karakter orang-orang yang menjadi stakeholders. Dari sanalah Anda mempunyai manajemen bagaimana mengelola lingkungan sekitar menjadi sebuah kekuatan yang akan mendukung karir Anda. Bagaimana mengelola perbedaan menjadi kekuatan yang mempersatukan. Apalagi kalau Anda memang benar-benar ingin menjadi wartawan, dunia pers saat ini membutuhkan alumni-alumni persma. Sehingga jangan takut tidak mendapat pekerjaan setelah tamat nanti. SEMUA TERGANTUNG ANDA!
Belajar Maka Anda Bisa!
Pepatah itu sejak kecil lekat dengan kita. Sebagai contoh, sewaktu kita ingin sekali bisa naik sepeda maka kita harus rajin belajar. Tahap demi tahap, meskipun harus sering jatuh bangun dan badan lecet. Tapi itulah dinamika yang harus kita lalui. Begitu juga bila Anda ingin mendapat ‘madu’nya persma, maka Anda harus belajar! Setidaknya kalau Anda sudah berada di persma, maka Anda akan menjadi wartawan kampus. Suatu predikat yang membuat Anda dianggap ‘serba tahu’ oleh mahasiswa lainnya, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Untuk itulah membaca adalah menjadi kegiatan wajib yang harus Anda lakukan ketika Anda berada di rimba persma dan menjadi petualang di ranah berita. Setidaknya ada lima modal dasar yang harus Anda ketahui untuk menapaki rimba persma. Pertama adalah kejujuran. Tanpa kejujuran bagaimana wartawan bisa melihat fakta dengan jelas? Kedua, harus dapat menyajikan berita secara akurat. Ketiga, harus melakukan cek dan ricek atas berita yang telah ditulis. Keempat, berpikiran terbuka. Seorang wartawan harus selalu berpikiran terbuka dan mau menerima pendapat orang lain. Kelima, tanggungjawab. Tanggung jawab harus selalu ada atas setiap berita yang dimuat karena berita tersebut dapat mempengaruhi orang banyak. (REPUBLIKA, 13 Juli 2003).
Kelima hal di atas dapat dianalogikan sebagai peralatan yang akan membantu Anda mencapai tujuan ketika Anda berada di rimba persma. Sebab hitam putih langkah Anda ke depan nanti yang akan menentukan adalah Anda sendiri. Amartya Sen, pemenang nobel bidang ekonomi 1998, dalam artikel eksklusif “Apa Pentingnya Kebebasan Pers?” untuk World Association of Newspaper (WAN) pada Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3 Mei, mengatakan “Pers dapat mengganggu dan menyerang lewat laporan yang dipelintir, dan dia juga dapat merusak hidup dengan melanggar wilayah pribadi seseorang. Tetapi kebebasan pers penting untuk beberapa alasan penting yang berbeda, dan adalah berguna untuk memilah masing-masing kontribusi-kontribusinya. Pertama––dan barangkali paling mendasar––berhubungan dengan kontribusi langsung pada kemerdekaan berbicara pada umumnya dan kebebasan pers pada khususnya terhadap kualitas hidup kita” (KORAN TEMPO, 2 Mei 2004).
Begitu masuk beberapa langkah ke dalam rimba AKLaMASI, Anda nanti akan menemukan orang-orang yang memiliki kebebasan berekspresi. Anda yang sebelumnya tidak tahu apa-apa dengan bahasa, tidak mustahil akan menjadi penulis hebat setelah berinteraksi dengan mereka. Anda yang sebelumnya buta dengan komputer, tidak mustahil akan menjadi desainer grafis yang saban hari ‘berkencan’ dengan mahluk dari dunia elektron tersebut. Anda yang sebelumnya malu berhadapan dengan orang, tidak mustahil akan menjadi negosiator berpengaruh. Itu semua akan Anda dapatkan bila Anda rajin belajar dengan semangat: SAYA HARUS BISA!
Percayalah bila Anda sudah mendapatkan ‘madu dari petualangan Anda di rimba persma ini, maka Anda akan merasa kehilangan ketika harus meninggalkannya. Seperti ketika Anda harus meninggalkan rumah dengan orang-orang yang sangat Anda sayangi. Orang-orang yang membuat hidup Anda lebih hidup (meminjam slogan Star-Mild). Sebab di sini Anda akan mendapatkan keluarga baru di rumah baru, fakultas baru, jurusan baru, dan tempat nongkrong baru. Anda tidak akan merasa kesepian saat berpetualang di rimba persma. Anda tidak akan merasa sendirian ketika mendapat rintangan. Anda tidak akan merasa ketakutan ketika mendapat ancaman. Anda tidak akan merasa kecil di hadapan orang-orang besar. Karena Anda berada di antara orang-orang yang mempunyai semangat besar. Dan untuk menjadi orang yang berhasil maka Anda harus membayar mahal dengan ikut bertungkus lumus dan terlibat dengan berbagai kegiatan jurnalistik yang mereka lakukan. Anda pasti akan merasa senang ketika tulisan yang Anda hasilkan dengan kerja keras dibaca orang. Anda pasti akan merasa ‘bagaimana gitu’ ketika Anda sebagai orang yang sebelumnya tidak mengerti apa-apa ternyata bisa membuat koran. Sanggup menghasilkan suatu produk media cetak bersama tim Anda yang sebenarnya masih sama-sama belajar. Maka dengan bangganya Anda (mungkin) akan membawa koran yang Anda buat sendiri itu ke rumah Anda di kampung, lalu Anda tunjukkan kepada orangtua Anda hasil kerja keras tersebut. Maka orangtua Anda juga akan bangga dengan Anda. Dalam hati mungkin mereka akan berkata: KAMI BANGGA DENGAN ANAK KAMI! DIA TELAH SELANGKAH LEBIH MAJU DARI KAMI, SEMOGA KELAK MENJADI ORANG YANG BERHASIL!
Kata-kata itu sangat sederhana sekali. Tapi kebanggaan dari orangtua bisa menjadi doa yang mengiringi kita dalam menapaki jalan terjal kehidupan. Bagaimana kekuatan doa dari kedua orangtua kita menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat menjalani hidup. Maka sekali lagi saya menekankan kepada Anda mahasiswa yang beruntung: TUNJUKKAN KEPADA DUNIA BAHWA ANDA ADALAH ORANG-ORANG YANG INOVATIF. JANGAN BERHENTI DI TENGAH JALAN SEBELUM ANDA MENDAPATKAN ‘MADU’ DARI PETUALANGAN ANDA DI RIMBA PERSMA. JANGAN MENYERAH TERHADAP SEMAK BELUKAR, RAWA-RAWA DAN LOLONGAN BINATANG BUAS SEBAGAIMANA ANDA BERADA DI TENGAH RIMBA BELANTARA. SAYA YAKIN ANDA BUKAN ORANG-ORANG YANG LEMAH SEMANGAT......***
*Tulisan ini disampaikan dalam Diklat Jurnalistik Mahasiswa Dasar se-Riau 2005. Tabloid Mahasiswa AKLaMASI Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Maret 2005.
*Penulis adalah mantan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tabloid AKLaMASI.