mimbar esai
| BERANDA | RUANGDOSEN | KICKNOTE | PUISI | CERPEN | ESAI | ARTIKEL | SOLILOKUI | INFOLOMBA | GUDANG | GALERI | BIODATA |

Oleh M Badri

Barang siapa dikutuk menjadi penyair

Wajiblah menziarahi Raja Ali Haji

Barangkali kalimat itu suatu saat nanti akan terselip di antara lembaran halaman buku-buku yang membahas Gurindam Duabelas. Nama besar Raja Ali Haji (1808 -1873) mempunyai magnet bagi para penyair––dan seniman lainnya––untuk datang ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri). Sehingga banyak penyair datang ke Pulau Bintan lalu menyeberang ke Pulau Penyengat, hanya untuk melihat sebuah perkampungan dengan banyak peninggalan kejayaan masa lalu kerajaan Melayu. Salah satunya adalah makam Raja Ali Haji, seorang budayawan di gerbang abad XX (begitu ditulis Hasan Junus), yang terpinggirkan di antara makam-makam kerabat kerajaan. Sampai Hasan Aspahani, seorang penyair nasional dari Kepri, sehari setelah perhelatan BAF selesai, langsung menulis larik puisi: “…Siapa pujangga dikubur di luar kubah istana/ Kita faham, syair tak bisa memindah letak makam...”

BAF yang tahun ini sudah memasuki tahun ketujuh merupakan perhelatan akbar yang digelar seniman Kepri. Tak tangung-tanggung, panitia dari tahun ke tahun banyak mengundang seniman nasional maupun internasional untuk memeriahkan acara tersebut. Sutardji Calzoum Bachri, Danarto, Rendra, Putu Wijaya, Joko Pinurbo, Butet Kertarejasa, Nano Riantiarno, Marhalim Zaini, Johanes Sugianto, adalah beberapa nama di antara sekian banyak seniman ternama yang pernah datang ke Tanjungpinang, yang juga kampung halaman “presiden penyair” Sutardji Calzoum Bachri. Tahun ini yang menjadi starring (begitu panitia menyebutnya) adalah penyair dan novelis Sitok Srengenge dari Jakarta.

Selain menampilkan seniman Tanjungpinang, Lingga, Karimun dan Batam, BAF juga menghadirkan beberapa seniman dari luar Kepri seperti Jakarta, Riau, Sumatera Barat, Thailand dan Singapura. Saya sendiri diundang panitia BAF sebagai penerima Raja Ali Haji Award pertama kalinya, karena puisi “Ayat-ayat Penyengat” ditabalkan sebagai pemenang pertama kontes penulisan puisi nasional bertema “Tafsir Bebas Gurindam Duabelas”. Bersama saya juga diundang pemenang lainnya, penyair kawakan dari Medan yang masih tetap produktif, A. Rahim Qahhar. Magnet Raja Ali Haji, akhirnya menarik saya untuk datang ke Tanjungpinang dan berziarah ke Pulau Penyengat, yang sebelumnya hanya saya dengar dari khotbah Hasan Junus saat saya rajin bertandang ke redaksi Majalah Sagang di Pekanbaru.

BAF yang merupakan metamorfosis dari Bintan Zapin Festival, menurut saya merupakan bentuk lain dari kegelisahan seniman Kepri selama ini. Setelah Kepri berpisah dengan Provinsi Riau karena dimekarkan menjadi provinsi sendiri, secara tidak langsung para seniman Kepri harus membuat identitas kebudayaan sendiri meskipun akarnya tetap saya, budaya Melayu. Kegelisahan itu kemudian dituangkan sejumlah seniman, terutama sastrawan Hoesnizar Hood dan para awak Dewan Kesenian Kepulauan Riau, dalam bentuk festival tahunan yang gaungnya hingga ke mancanegara.

Meskipun dengan kondisi seadanya, tanpa gedung kesenian dan properti yang memadai, tetapi BAF terbilang sukses dan konsisten diselenggarakan setiap tahun. Manajemen acara yang diterapkan panitia merupakan kunci keberhasilan acara tersebut. Sehingga dari tahun ke tahun, selalu ada yang baru dari BAF. Selain menjadi panggung apresiasi, BAF juga menjadi ajang interaksi seniman Kepri dan daerah lain. Saya dan (mungkin juga) Sitok Srengenge, yang sama-sama baru pertama kali datang ke Tanjungpinang, kalau tidak menghadiri BAF barangkali belum bertemu penulis-penulis Kepri seperti Hoeszinar Hood, Hasan Aspahani, Hendri Anak Rahman, Abdul Kadir Ibrahim, Aswandi Syahri, Samson Rambah Pasir, Ramon Damora, dan lainnya. Meskipun nama-nama tersebut sudah tidak asing lagi, karena kerap berunculan di media massa dan buku-buku sastra.

Lautan Manusia di Ocean Corner

Tidak salah kalau Tanjungpinang dijuluki “Kota Gurindam”. Besarnya perhatian masyarakat terhadap kesenian terlihat pada malam pertunjukan BAF, 2 – 3 November 2007. Kurang lebih seribu penonton memadati panggung terbuka di Ocean Corner, yang langsung menghadap laut. Suasana tersebut seakan ingin membuktikan kepada dunia bahwa dari gugusan kepulauan itu telah banyak seniman besar tumbuh. Selain Raja Ali Haji, setidaknya Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Sutardji Calzoum Bachri dan Hasan Junus banyak melahirkan karya sastra setelah intens bercumbu dengan asin laut di kepulauan itu.

Gubernur Kepri Ismeth Abdullah, saat membuka acara tersebut menjawab (atau malah menambah) kegelisahan seniman. Janji untuk membangun gedung kesenian yang dijadwalkan selesai dua tahun mendatang salah satunya. Satu kegelisahan terjawab sudah, Kepri akan memiliki gedung kesenian. Kegelisahan lain muncul, karena gedung kesenian akan dibangun di Dompak yang konon katanya jauh dari pusat peradaban. Membaca tulisan Hoesnizar Hood dalam kolom “Temberang” di Batam Pos (Minggu, 4 November 2007), seakan kegelisahan itu tertuang dalam penggalan kalimatnya, “Kan pemerintah mau membangun kesenian di Dompak? Dahi saya berkerut mendengarnya. Benteng kebudayaan itu harus terletak di jantung akar budayanya. Kalau di Dompak nanti yang datang siapa?”

Melupakan sejenak kegelisahan kawan-kawan seniman Kepri, acara dilanjutkan dengan pemberian cenderamata kepada para seniman yang berjasa atas terselenggaranya BAF 2007 dan menyerahan Raja Ali Haji Award kepada para pemenang. Kemudian pertunjukan diawali dengan pembacaan puisi oleh M Badri (Bogor/Pekanbaru) yang menampilkan puisi Kuambil Rembulan yang Tumbuh di Dadamu, Laut Limbah dan Lalu Lambungpun Membusung. Berselingan dengan suguhan musik dan tarian dari beberapa daerah dan mancanegara, Sitok Srengenge (Jakarta) dan A. Rahim Qahhar (Medan) menunjukkan kehebatannya membaca puisi. Walikota Tanjungpinang Suryatati A. Manan juga tak mau kalah, ia menuangkan kegelisahannya saat membaca puisi berjudul “Janda” yang ditulisnya sendiri. Melihat itu, saya jadi teringat salah satu judul tulisan Hasan Aspahani di Kolom POSMETRO, “Bu Tatik Bersajak-sajak, Pak SBY Bernyanyi-nyanyi.”

Pada hari kedua BAF, siangnya diisi dengan perbincangan budaya bertema “Pengaruh SEZ Terhadap Budaya Lokal” dengan pembicara Zamzami A. Karim (Tanjungpinang), Samson Rambah Pasir (Batam) dan Agung Bhakti Pratomo (Universitas Paramadina Jakarta). Baru pada malam kedua BAF yang merupakan puncak acara, para seniman menyihir penonton yang jumlahnya semakin membludak. Sitok Srengenge menghipnotis dengan beberapa puisinya yang dibaca tanpa teks. Sitok yang menjadi starring pada BAF 2007 dikenal sebagai penyair yang sudah malang melintang di dunia sastra internasional dan bisa membaca puisi tanpa teks hingga dua jam lebih. Kepiawaiannya menghapal puisi, membuatnya lebih leluasa beraksi di atas panggung.

Kemudian Hasan Aspahani memukau penonton dengan puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu yang diawali dengan mantera “Leherku batang getah, menorehkan darah” yang menggelegar. Begitu juga dengan Samson Rambah Pasir dan Hoesnizar Hood yang membacakan puisi dari buku “Tempuling” karya Rida K Liamsi, hingga membius penonton sampai akhir acara. Tak kalah dengan penyair, para penari, pemusik, pemain teater juga membuat gegap gempita panggung terbuka di pinggiran Tanjungpinang tersebut.

Selesai perhelatan BAF 2007, kegelisahan seniman muncul kembali. Bisakah tahun depan BAF menghadirkan gelombang lautan manusia lebih besar di tempat itu? Kalau kemudian gedung kesenian jadi di bangun di Dompak, mungkinkah gegap gempita seperti di Ocean Corner masih terjadi? Apapun bentuknya, kegelisahan selalu memberi spirit kepada seniman untuk berkarya. Terlepas dari kegelisahan tersebut, magnet Raja Ali Haji akan terus menarik para penyair Indonesia dan dunia untuk datang ke Tanjungpinang. Tinggal menunggu giliran.***

Oleh M Badri

Pertumbuhan komunitas sastra merupakan fenomena menarik untuk melihat perkembangan minat masyarakat terhadap sastra. Meskipun tanpa komunitas, sebenarnya sastrawan juga dapat berkembang. Tapi mengambil filosofi “sapu lidi”, dengan berkomunitas para peminat dan pegiat sastra dalam memperkuat individu, proses, dan karyanya. Sebab banyak hal didapat dari komunitas yang iklim di dalamnya cukup sehat untuk berkreativitas. Tanpa kepentingan-kepentingan tertentu selain bersastra (menulis, diskusi, apresiasi).

Ketika membaca beberapa tulisan, kadang juga mengamati langsung, saya melihat masih banyak yang belum memahami esensi dari sebuah komunitas. Meskipun komunitas adalah sekumpulan orang-orang, bukan berarti komunitas sastra merupakan ajang pengumpulan orang sebanyak-banyaknya dalam sebuah lingkaran kata: sastra, penulis, pena, dan sebagainya. Terlebih bila pengumpulan orang-orang tanpa melihat motif dan tujuan berkomunitas, apakah ingin berproses kreatif, sekadar meramaikan, atau menebar kepentingan (tertentu).

Apa arti sebuah komunitas sastra, bila orang-orang di dalamnya kebanyakan tidak mempunyai motivasi untuk berkarya? Saya memandang ini lebih kepada makna berkomunitas. Sebab hasil akhir dari para peminat sastra (terutama penulis pemula) adalah menghasilkan karya, bukan sekadar seremonial belaka. Bila sebuah komunitas sastra tak mampu menunjukkan karyanya, komunitas tersebut tak lebih dari mobilisasi massa.

Dalam pandangan saya, penggambaran tentang komunitas sastra bisa sangat sederhana, misalnya beberapa orang berkumpul pada suatu siang di galeri buku, atau suatu malam di bawah kolong jembatan. Dengan beberapa gelas kopi dan sebungkus rokok ––bungkusan gorengan juga barangkali. Membawa beragam ide dan pikiran untuk didiskusikan atau ditumpahkan. Bisa juga sangat wah, seperti di sebuah ruangan hotel dengan suasana yang serba mewah. Anggotanya juga mencapai puluhan orang dengan beragam latar belakang dan motif berkomunitas yang dibawa masing-masing individu.

Dari beberapa kali berkomunikasi dengan rekan-rekan penulis yang berkomunitas, saya kemudian memandang komunitas menjadi lebih simpel lagi: mengobrol dan menulis. Kadang hanya di kamar sempit berbau apak, di warung kopi sederhana, di toko buku kecil, di ruang maya, juga di ruang terbuka dan selalu berpindah-pindah. Tetapi para pegiatnya menampakkan eksistensinya, dengan menampilkan karya kreatifnya di sejumlah media massa. Menunjukkan kemampuannya melalui berbagai sayembara.

Namun bagaimanapun bentuknya, tentunya komunitas sastra merupakan sekumpulan orang yang tahu (atau ingin tahu) tentang sastra dengan melibatkan diri pada berbagai aktivitas sastra. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh pegiat komunitas sastra, dari diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan. Kadang hanya sekadar menggosip tentang individu-individu sastrawan atau menjadi ajang “pengujian” karya sebelum dikirimkan ke media massa, untuk mendapat pengakuan publik melalui perantara redaktur budaya.

Di sinilah kemudian muncul pertanyaan sederhana tadi, apakah komunitas sastra merupakan forum untuk memobilisasi karya atau memobilisasi massa? Kalau saya berpendapat, tidak ada yang lebih penting dari sebuah komunitas sastra selain memobilisasi karya dengan menulis dan menghasilkan karya-karya kreatif. Sedangkan mobilisasi massa, biarlah itu dilakukan ormas-ormas yang jumlahnya tentu jauh lebih banyak dari jumlah komunitas sastra. Tapi kalau kedua-duanya bisa digabungkan tentu suatu prestasi tersendiri ––atau masalah sendiri. Sebagai gambaran, misalnya sebuah komunitas penulis di suatu tempat jumlah pengurusnya diasumsikan sepuluh persen dari jumlah anggota. Bisa dibayangkan bila jumlah pengurusnya saja mencapai puluhan orang, berapa banyak karya yang dihasilkan (seandainya motifnya untuk berkarya) para anggotanya.

Keberadaan komunitas sastra memang sangat berpengaruh terhadap proses kreatif anggotanya. Karena biasanya dalam komunitas terjadi persinggungan kreatif, saling belajar, saling kritik dan sebagainya. Melalui proses tersebut kemudian akan lahir karya-karya yang bernas, penulis yang diperhitungkan, dan lebih penting lagi tetap terjaganya gairah untuk berkarya. Tetapi, kadang keberadaan komunitas sastra hanya menguntungkan individu-individu tertentu, tokoh-tokoh tertentu, semisal ketuanya atau donaturnya. Kalau yang terakhir ini, sebuah komunitas cenderung menjadi “alat” orang-orang yang berkepentingan, bukan menjadi “forum” bersama untuk berproses kreatif.

Karena komunitas sastra tidak sama dengan ormas, tentunya tujuan dari komunitas sastra adalah bagaimana sukses bersama dalam berkarya. Sehingga publik sastra tidak teracuni oleh ideologi-ideologi tertentu di luar konteks sastra yang membawa bendera sastra. Sebab dalam sastra sendiri telah terjadi kecenderungan pengkotak-kotakan, antara moralis dan liberalis, kanan dan kiri, dan sebagainya. Hal itu menyebabkan timbulnya sekat-sekat, pertentangan yang mengarah pada permusuhan, bukan malah memunculkan perdebatan yang sehat untuk menemukan muara sastra yang universal. Apa jadinya bila kepentingan di luar sastra (terlebih tidak memahami sastra) turut ambil bagian dalam polemik tersebut.

Esensi Komunitas

Kalau ditanya apakah yang dibutuhkan publik sastra dari komunitas, jumlah karya atau anggotanya? Saya yakin, dengan akal sehat, semua akan sepakat karya lebih penting dari orang-orangnya. Bahkan seringkali publik mengenal karyanya daripada penulisnya. Itulah realitas dari dunia tulis-menulis, dunia sastra dengan segala warnanya. Bahwa tidak ada yang lebih penting dari karya. Hal ini juga diakui oleh sastrawan sekaliber Joni Ariadinata beberapa waktu lalu, dalam suatu perbincangan sastra di Pekanbaru. Pengakuan legalitas organisasi (seperti SK dan atribut) tidak penting bagi penulis, tetapi yang penting karya apa yang telah dihasilkan. Itulah perbedaan komunitas penulis dengan ormas.

Kesuksesan komunitas juga tidak ditentukan oleh figur tokohnya, nama besar organisasinya, terlebih kekuatan dananya. Sehingga pandangan tentang pentingnya faktor sastrawan seniornya, penyandang dana, campur tangan pemerintah, kemampuan lobi untuk mensukseskan acara seremonial, dalam sebuah komunitas hanyalah pemikiran sempit (juga picik). Dalam publik sastra yang menjadi ukuran keberhasilan adalah kualitas karya yang dihasilkan anggota komunitasnya.

Di sini yang sering dilupakan adalah bahwa keberhasilan aktivitas kesastraan tergantung bagaimana masing-masing pribadi berproses kreatif untuk menghasilkan karya. Keberadaan komunitas hanya faktor pendukung dan penyemangat untuk terus berkarya. Sehingga percuma saja menempel di depan kebesaran nama komunitas kalau tidak berbuat apa-apa, tidak menghasilkan karya. Hanya pesta dan hura-hura. Sebab nama besar komunitas bukan menjadi jaminan kualitas karya anggotanya.

Dalam beberapa kali diskusi kadang saya heran terhadap sikap beberapa pegiat komunitas ––terutama pemula. Baru satu atau dua kali menulis sudah bisa mengukur kualitas karyanya ––tentunya dari sudut pandang pribadi dengan memakai jubah besar nama komunitas. Sehingga menggugat redaktur sastra koran atau majalah, kenapa tidak memuat karya-karyanya. Penilaian-penilaian individu seperti ini sebenarnya sah-sah saja, sepanjang untuk evaluasi terhadap karya yang telah dibuat. Bukan justru menjustifikasi bahwa karya yang telah dihasilkan sudah “luar biasa” sehingga wajib disiarkan kepada publik. Gugatan-gugatan narsisme seperti ini sebenarnya tidak perlu muncul seandainya penulis mau berkaca dengan membaca karya-karya penulis yang benar-benar luar biasa, lalu mengevaluasi karya sendiri. Bukan malah “buruk muka cermin dibelah”.

Masalah lain yang kadang timbul dalam komunitas sastra adalah munculnya virus epigon pada penulis pemula. Kecenderungan “mendewakan” sang senior atau sang guru menyebabkan keseragaman gaya penulisan. Dalam jangka pendek wajar bila murid menirukan gurunya, namun bila berkesinambungan dan menjadi indoktrinasi saya kira membawa masalah. Calon penulis tidak memiliki kebebasan menampilkan gaya atau tidak berani memunculkan karakter kepenulisannya. Inilah bila komunitas menjadi tempurung bagi katak kreativitas, bukan menjadi sungai yang mengalirkan kreativitas. Maka komunitas hanya akan kontraproduktif dan memandulkan proses kreatif anggotanya.

Esensi penting dalam berkomunitas adalah bagaimana individu-individu yang akan berkelompok membawa idealisme dan semangat masing-masing. Sebab komunitas hanya wahana untuk berkreasi, berinteraksi dan berekspresi. Dengan semangat dan idealisme, para pemula tidak terjebak pada bayang-bayang kebesaran komunitas, jumlah anggota komunitas, indoktrinasi komunitas, nama besar figur atau batas-batas kreativitas. Sehingga bisa memilih, menjadi idealis atau elitis. Maka pegiat komunitas sastra di Riau, berlomba-lombalah menghasilkan karya, bukan sekadar mengumpulkan massa sebanyak-banyaknya.***

Sunday, February 11, 2007
Oleh M Badri

Sumber: Riau Pos, Minggu 11 Februari 2007
Sebuah perhelatan sastra baru saja digelar sejumlah penulis muda di Taman Budaya Yogyakarta, 2 – 3 Februari 2007 kemarin. Acara yang bertajuk “Forum Penyair Muda 4 Kota (Yogyakarta, Bandung, Denpasar dan Padang)” tersebut mengusung tema “Halo Penyair Muda Daerah, Apa Kabar?”. Meskipun acara dikemas sederhana tapi lumayan membawa kesan. Diawali dengan bedah buku puisi “Herbarium” yang memuat puisi-puisi penyair muda dari empat kota, diskusi tentang peta kepenyairan dan pembacaan puisi. Secara kebetulan, saya yang saat itu sedang berada di Yogyakarta, berkesempatan menghadiri undangan “tak resmi” dari beberapa teman penyair yang punya hajatan. Karena saya sendiri berada di luar empat kota tersebut. Lantas kenapa hanya empat kota?

Tanpa melihat celah etnosentrisme, barangkali para penyair muda penggagas kegiatan tersebut berupaya “melawan” mitos bahwa yang muda tidak bisa “berpesta”. Setidaknya hal itu muncul dari diskusi dengan beberapa teman penyair (muda) yang merasa bahwa hegemoni penyair “tua” masih memegang peran penting dalam berbagai perhelatan sastra di tanah air. Seolah-olah yang yang muda tidak mendapat tempat, sehingga ketika ada event sastra selalu yang itu-itu juga yang datang. Dalam konteks ini saya tidak memandang ekstrim bahwa kegiatan semacam itu merupakan “perlawanan” terhadap hegemoni penyair “tua” ––meskipun ada kecenderungan terjadi. Tetapi lebih kepada bagaimana para penyair muda dari sejumlah daerah di tanah air dapat bersilaturahmi, baik secara individu maupun proses kreatif.

Memang akhir-akhir ini di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Bali, Padang, Bandung, Lampung dan sebagainya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Hal ini merupakan suatu pertanda baik dalam proses regenerasi kepenyairan di Indonesia. Petumbuhan media massa baik cetak maupun elektronik (internet) turut menjadi faktor pendukung suburnya iklim kreatif ini. Lalu bagaimana dengan Pekanbaru? Setakat ini saya belum melihat perkembangan yang menggembirakan. Itu juga seirama dengan perbincangan saya akhir tahun lalu dengan salah seorang redaktur budaya media lokal yang berkantor di Pekanbaru. Di mana hampir terjadi lost generation penulis sastra di kota Pekanbaru. Dalam konteks ini barangkali saya akan memfokuskan pada regenerasi kepenyairan yang akhir-akhir ini nyaris tidak ada perkembangan.

Melihat kondisi bersastra yang kurang bergairah itu, tidak heran bila penyair-penyair muda Pekanbaru masih kurang mendapat tempat di kalangan penyair-penyair muda nusantara. Permasalahannya bukan terletak pada kualitas, tetapi lebih pada kuantitas yang dewasa ini cenderung menurun. Dalam hal persentuhan kreatif antarpenyair muda pun, saya melihat penyair muda Pekanbaru masih kurang “gaul”. Hal ini cukup beralasan karena ketika menjelajahi forum-forum diskusi sastra melalui berbagai media maya, hanya segelintir nama yang saya lihat ikut nimbrung. Padahal saat ini persinggungan kreatif antarpenyair-penyair muda sering dilakukan melalui berbagai milis atau forum diskusi di situs-situs sastra. Berbagai infromasi tentang perlombaan maupun event-event sastra sering kali muncul melalui media tersebut. Di sini yang perlu dicatat bahwa meskipun ingin bermain dengan lokalitas, tapi untuk menunjukkan eksistensinya di ruang publik tetap perlu berpikir global. Sebab dari situ kemudian sering muncul gagasan dan pertemuan yang melahirkan suatu agenda sastra. Salah satunya forum penyair muda yang saya sebut di atas.

Sebagai pegiat sastra yang tumbuh dan berkembang di Pekanbaru saya merasa mempunyai beban moral untuk “memprovokasi” para penyair muda yang sedang tumbuh untuk segera meramaikan khasanah sastra nusantara. Sehingga kejayaan penyair muda Pekanbaru (atau lebih luasnya Riau) bukan hanya sekadar romantisme masa lalu, tetapi harus terus berlanjut hingga kini. Beban sejarah bahasa Melayu sebagai “akar bahasa” seyogianya menjadi api pemantik untuk terus berkreatifitas. Berbagai media massa (dengan rubrik sastranya) yang ada di Pekanbaru saya kira cukup memadai sebagai medium untuk mengasah kreativitas dan kualitas karya. Ini sebenarnya merupakan suatu peluang mengingat jumlah media-media lokal yang menyediakan rubrik sastra di Pekanbaru relatif lebih banyak dibandingkan daerah lain. Tetapi kalau masalahnya terletak pada besarnya honorarium sebagai penghargaan terhadap penulis, barangkali hal itu perlu didiskusikan lebih lanjut dengan pemilik media. Sebab perkembangan bersastra tidak lepas dari ketersediaan media sebagai wadah publikasi karya-karya sastra. Di sinilah sebenarnya media massa harus mengambil peran lebih sebagai penggerak kepenyairan di Pekanbaru.



Pentingkah Komunitas Sastra?
Selain iklim diskusi sastra melalui “media maya” sepertinya kehadiran komunitas sastra juga dipandang perlu untuk regenerasi kepenyairan di Pekanbaru. Kalau dilihat lebih dekat, sebenarnya komunitas-komunitas sastra berpeluang untuk berkembang di wilayah kampus dalam bentuk unit kegiatan mahasiswa. Tetapi tidak dapat dipungkiri komunitas yang muncul di luar kampus kadang lebih menunjukkan eksistensinya. Berbicara tentang komunitas kampus, sebenarnya di Pekanbaru yang lebih tenar cenderung komunitas teater ––sekadar menyebut nama seperti Latah Tuah (UIN), Selembayung (Unilak), Batra (Unri) dan Lisendra Dua Terbilang (UIR). Sebab komunitas-komunitas itu juga banyak memunculkan penyair-penyair muda yang cukup berbakat. Sedangkan komunitas yang murni mengusung sastra, antara lain Senapelan Writers Association (SWA) di UIR. Tapi SWA kini nyaris tanpa aktivitas, kecuali beberapa pegiatnya yang masih mencantumkan nama komunitas di biodata karyanya setiap muncul di media massa.
Sedangkan komunitas di luar kampus, beberapa tahun lalu pernah muncul Komunitas Sastrawan Muda Riau (KSMR), namun sebelum sempat menunjukkan eksistensinya keburu hilang. Kini yang masih terdengar hanya Komunitas Paragraf yang digerakkan oleh sejumlah sastrawan seperti Hary B Koriun, Marhalim Zaini, Olyrinson dan Budy Utami, serta komunitas Forum Lingkar Pena (FLP). Lalu, di mana penyair-penyair muda-muda di bawah generasi Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, atau Jefry Al Malay? Membaca buku kumpulan cerpen dan sajak terpilih Riau Pos 2006 “Jalan Pulang”, saya belum menemukan nama-nama baru di belantara sastra Riau. Sehingga tidak heran bila rubrik sastra media lokal Pekanbaru dibanjiri penulis-penulis muda dari luar Riau. Sungguh ironis!

Melihat fenomena ini sepertinya para penyair yang lebih dulu eksis (kalau tidak mau disebut tua atau senior) harus turut berpikir dan mencari jalan keluar bagi kemunculan penyair-penyair muda Pekanbaru. Kalau masalahnya pada kualitas, tentunya perlu dibudayakan pembelajaran sastra yang mengarah pada pematangan proses kreatif penulis-penulis yang baru tumbuh. Dengan memberikan motivasi dan semangat untuk berkarya serta melibatkan mereka dalam sejumlah event yang diadakan lembaga-lembaga sastra ––dewan kesenian, misalnya. Bila masalahnya pada kuantitas, tentunya perlu jejaring untuk memunculkan penyair-penyair berbakat di kampus-kampus maupun sekolah-sekolah. Saya yakin cukup banyak generasi muda yang berpotensi menjadi penyair. Hanya saja masalahnya pada ada tidaknya dorongan dan kesempatan untuk muncul di ruang publik.

Memang bukan jaminan bahwa komunitas akan penghasilkan karya-karya atau penulis berkualitas. Tetapi setidaknya melalui komunitas, iklim bersastra dapat tumbuh subur melalui berbagai kegiatan diskusi maupun pengkajian karya-karya sastra yang dilakukan. Karena dalam sebuah komunitas terjadi proses interaksi kreatif dan saling memberi umpan balik antara anggota-anggotanya. Terlebih bila sering diadakan diskusi dengan menghadirkan pembicara-pembicara dari kalangan penyair “senior” yang secara tidak langsung akan memacu penulis-penulis muda untuk giat berkarya. Hal ini akan mempercepat kematangan dalam bersastra dan memunculkan penulis-penulis muda. Memang itu bukan pekerjaan mudah, karena kegiatan bersastra meskipun dilakukan secara kolektif tetap saja nilai kualitas dan eksistensinya tergantung pada pergumulan kreatif masing-masing individu.



Tradisi Apresiasi Puisi
Selain menggerakkan kantong-kantong sastra melalui berbagai komunitas, perlu juga dibangun apresiasi sastra (terutama puisi). Apresiasi berperan mengobarkan semangat penyair-penyair muda untuk “meledakkan” karyanya. Apresiasi seperti ini antara lain saya lihat dalam kegiatan forum penyair muda di Yogyakarta beberapa waktu lalu. Dimana sejumlah komunitas sastra menunjukkan tradisi apresiasi sastra secara kontinyu untuk mempertahankan gairah menulis. Sebagai contoh adanya budaya pembacaan puisi berjamaah secara bergantian (semacam tadarus puisi) yang dilanjutkan dengan kritik oleh anggota-anggota lainnya. Melalui proses belajar kolektif seperti ini kemudian akan muncul karya-karya berkualitas yang siap bersaing memperebutkan posisi di ruang publik.

Kemudian melihat begitu banyaknya jurusan bahasa dan sastra di sejumlah perguruan tinggi, sangat bertolak belakang dengan perkembangan kepenyairan di Pekanbaru. Apakah hal ini disebabkan karena para pengajar sastra di perguruan tinggi kebanyakan kurang apresiatif terhadap karya sastra? Saya tidak berhak memvonisnya. Tetapi pada kenyataannya, para pengajar sastra di perguruan tinggi atau sekolah-sekolah masih terbelenggu dengan hegemoni kurikulum. Sehingga kurang apresiatif terhadap perkembangan sastra kontemporer yang terus meluas. Tentunya menjadi masalah besar bila kita menginginkan pertumbuhan penyair muda tanpa didukung oleh sistem pendidikan sastra yang mumpuni.

Ternyata permasalahan ini juga terjadi di sejumlah kota yang notabene sebagai pusat pendidikan sastra. Di mana tenaga pengajar sastra (juga mahasiswa jurusan sastra) jarang yang benar-benar menggeluti sastra itu sendiri secara intens. Sedangkan mereka yang bergumul dengan sastra secara teori maupun praktek lebih memilih menjadi wartawan atau editor buku daripada pengajar sastra. Kalau memang demikian, wajar saja bila generasi muda kita banyak yang tidak mencintai sastra bahkan “buta” mengenai sastra, terutama sastra yang “serius”.

Fenomena ini tentunya perlu mendapat perhatian lebih dari peminat sastra, baik yang bergerak pada tataran teoritis maupun praktis. Sehingga ke depan tidak terjadi lost generation penyair-penyair muda Pekanbaru, tetapi diharapkan pertumbuhannya menggembirakan terutama untuk meramaikan kepenyairan di tanah air. Berkaca pada “Forum Penyair Muda 4 Kota” tersebut, penyair muda Pekanbaru diharapkan dapat ambil bagian dalam berbagai event sastra selanjutnya. Apa kabar penyair muda Pekanbaru? Barangkali saya tidak membutuhkan jawaban kabar baik atau kabar buruk. Tetapi lebih pada jawaban untuk sama-sama menumbuhkan kesadaran kreatif membangun budaya kepenyairan di Pekanbaru yang lebih baik.***


M Badri. Menulis cerpen, puisi, dan esai di sejumlah media massa serta beberapa kali memenangkan penghargaan sastra, terakhir pemenang pertama lomba cerpen nasional Festival Kreativitas Pemuda 2006 yang diadakan Creative Writing Institute (CWI) bekerjasama dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI. Sementara ini tinggal di Bogor untuk studi di program Magister Komunikasi Pembangunan IPB. Mengelola WebBlog http://negeribadri.blogspot.com
Monday, July 31, 2006

Nyanyian Risau ”Sastra Babu”
Oleh M Badri

BELUM lama ini khazanah sastra kita kedatangan genre baru. Setidaknya demikian penggambaran yang muncul dengan terbitnya buku kumpulan cerpen Buruh Migran Indonesia (BMI) yang berjudul Nyanyian Imigran. Menarik memang, terlebih melihat peluncuran buku tersebut di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 23 Juli 2006 lalu yang dihadiri sejumlah sastrawan. Istilah “sastra babu” tiba-tiba muncul di sela-sela diskusi yang membahas kumpulan cerpen ini. “Sastra babu” merupakan penggambaran terhadap karya yang dihasilkan oleh BMI, yang ––katanya–– kebanyakan berprofesi sebagai pramuwisma (eufemisme dari babu). Istilah itu disebut seperti halnya istilah “sastra buruh”, “sastra kota”, “sastra eksil” dan sederat istilah yang muncul di halaman sastra kita.

Sihar Ramses Simatupang dalam kata pengantar buku ini mengungkapkan, menghargai tanah rantau sebagai sebuah latar cerita memang menjadi suatu keistimewaan. Selain karena faktor emosional seringkali masih terarah kepada tanah air, perasaan rindu, membuat kemasakinian yang jelas di depan mata dan di sekitar tubuh kita, menjadi lolos dari perhatian. Padahal, di sisi lain, imaji, kesan di tanah rantau (dengan obyek tanah rantau pula), justru dapat dijadikan energi dan menghasilkan kesan yang berbeda.

Ungkapan Sihar tersebut nyatanya memang membekas dalam teks sastra sebagai pengejawantahan dari kehidupan para buruh migran. Hal itu semakin terasa karena sebagian besar penulis cerpen ini berasal dari kaum hawa, di mana eksploitasi atas nama perburuhan begitu kental terasa. Coba kita putar kembali memori kita pada banyak kasus yang menjadikan buruh migran (khususnya tenaga kerja wanita) sebagai korban penindasan, eksploitasi, pemerkosaan, dan beragam cerita kelam lainnya.

Itulah yang kemudian menjelma menjadi cerita-cerita yang kini akan melengkapi rak perpustakaan kita. Karena sastra sering dikatakan sebagai bahasa universal dan mengandung “pencerahan”, maka sah-sah saja bila Nyanyian Imigran ini dikatakan sebagai pembuka mata kita, betapa nasib para buruh migran di negeri asing begitu memilukan, di balik gelimang dolar atau ringgit yang cukup menjanjikan. Persoalan luka, derita, dan cinta agaknya memang tak lepas dari relung imaji para buruh migran yang kemudian dituangkan ke dalam teks-teks dengan bahasa khas mereka. Meskipun sastra merupakan hasil dari proses imajinasi, tetapi tetap saja akarnya berasal dari realitas yang muncul di tengah kehidupan manusia ––dengan suka dukanya.

Dalam buku yang memuat 16 cerpen karya buruh migran tersebut, terlihat sekali bagaimana problem di seputar kehidupan para penulis di perantauan. Begitu juga dengan nama-nama penulisnya, barangkali masih begitu asing di ranah sastra kita. Karena sebagian besar mereka lahir dan tumbuh dari berbagai mailing list (milis) yang kini sedang mengemuka, sebagai ajang diskusi dan tukar informasi yang terbebas dari belenggu ruang dan waktu. Dan memang para penulis di buku ini––Aliyah Purwati (Selembar Kertas Buruh Harian BMI), Ann (Wan Chai), Eni Yuniar (Tuan dan Nyonya Majikan Yang Terhormat), Etik Juwita (Hatiku Kapalan), Ikrima Ghaniy (Suami), Imes Hisa (Sekuntum Bunga Tak Berbuah), Kris DS (Goresan Buat Winda), Lik Kismawati (Laki-laki dan Lukisan Burung), Mega Vristian (Gelang Giok Mama), Nining Indarti (Selingkuh), Swastika (Pahlawan Kesiangan), Tanti (Di Saat Jariku Menari), Tarini Sorrita (Hamil), Gendhotwukir (Kidung Duka Seorang Buruh), Sigit Susanto (Perempuan Tua di Bahnhof Zurich), dan Joey Sambo (Nyanyian Imigran)––adalah orang-orang yang dengan setia mengisi ruang diskusi dan pertemuan maya berbagai milis sastra, salah satunya di Apresiasi-Sastra@yahoogroups.com.

Inilah hasilnya, sebuah komposisi dengan berbagai irama kepenulisan yang hadir setelah melalui perjuangan panjang lintas benua, lintas waktu, lintas kesibukan. Sampai kemudian menjadi sebuah buku bersampul merah khas kaum buruh. Sehingga komposisi teks kreatif mereka juga merupakan suatu irama yang cukup beragam dengan muasal lahirnya cerpen-cerpen ini. Sebuah prestasi tersendiri, ketika babu kemudian menulis cerpen secara berjamaah. Tepat seperti yang diungkapkan Djodi Sambodo dan Mega Vristian di halaman pembuka buku ini, bahwa mereka yang telah melintas samudera, di antara derai air mata, ancaman kematian, siksaan fisik dan batin, demi perbaikan nasib, ternyata masih bisa menyempatkan waktunya untuk menulis. Hal itu juga terucap saat berbincang-bincang dengan Lik Kismawati, salah seorang penulis dalam buku ini, yang mengungkapkan bagaimana perjuangan mereka menyelesaikan sebuah cerpen di antara kesibukan sebagai babu.

Kalau dirunutkan secara tematik, sebagaian besar cerpen ini bercerita tentang percintaan, pelecehan, penindasan, dan tak lupa perselingkungan. Lihat saja misalnya kutipan cerpen Goresan Buat Winda yang kebetulan sempat dibacakan dengan sangat liris. “Jelas! Aku sangat emosi melihat ketegaan mereka menghianati aku. Terlebih lagi bila mengingat saran mereka berdua. Mereka menyarankan agar aku mengambil cuti pulang ke Indonesia untuk membuang janin dua bulan hasil hubungan dengan Arxiank alias aborsi! Mereka mana mau tahu, betapa aku mati matian melawan maut di ruang sempit dukun beranak di perkampungan Mberiot, sebuah desa antara Malang – Blitar. Eh... Di sini mereka malah membuat tarian erotis dalam kamar hotel berbintang. Mungkin memang benar sebuah pepatah bilang, orang terdekat adalah musuh terbesar.”

Selain tema percintaan dan perselingkungan yang mewarnai romantisme buruh migran, beragam kultur bangsa lain juga muncul dalam kumpulan cerpen ini. Kehadirannya secara simbolis tergambar dalam teks-teks yang mengungkapkan tubuh, bahasa, dan tempat. Hal seperti ini memang lumrah muncul dalam karya sastra, sebab mengutip pernyataan Warih Wisatsana, inspirasi penciptaan karya diperoleh dari berbagai pertemuan, perjalanan, maupun pengahayatan karya sastrawan lain. Meskipun demikian, tetap saja karya-karya dalam cerpen ini tidak bisa lepas dari kultur asal penulisnya.

Cerpen Nyanyian Imigran Joey Sambo yang kemudian dijadikan judul sampul buku ini, agaknya mewakili sederet cerita dengan sederet misi penulisnya yang diungkapkan dengan beragam teknik dan gaya penulisan. Cerita yang dibumbui dengan berbagai karakter dan bahasa, yang kemudian diramu dengan kehidupan naas para imigran gelap di negeri Paman Sam, ini merupakan miniatur kehidupan para buruh migran dari berbagai negara dunia ketiga. Sepeti ditulis Joey di akhir cerpennya, “Akhirnya aku memahami, bahwa kehidupan imigran dengan lirik lagunya Led Zeppelin ini, kurang lebih adalah sama. Nyanyian orang-orang yang mengarungi samudera untuk menemukan tanah baru, demi perbaikan nasib. Walau tanah baru itu tidak lebih adalah bangsal kematian atau Valhalla. Atau teriakannya para imigran yang memimpikan kehidupan lebih baik di dunia Barat, ternyata hanya menuai kepahitan.”

Meskipun para cerpenis tersebut menulis di antara jam kerja dan waktu istirahat, akhirnya karya dalam buku ini dapat mewakili kerisauan mereka di tanah perantauan dan pada kampung halaman. Kerisauan mereka sepertinya memang berupa nyanyian panjang yang belum berakhir, meskipun kita berulang kali membaca 179 halaman buku ini. Karena secara tersirat buku kumpulan cerpen ini mengajak kita untuk bertamasya melihat lebih ke jauh bagaimana lembaran kehidupan para buruh migran lewat “sastra babu”. ***

M Badri adalah peminat dan penikmat sastra. Sementara ini tinggal di Bogor untuk studi di Program Magister Komunikasi Pembangunan IPB. E-mail: mas_badre@yahoo.com.

Riau Pos, Minggu, 30 Juli 2006

Oleh M Badri

Akhir tahun 2004 lalu adalah tahun keberuntungan bagi Hary B Kori’un. Maklum, novelnya yang berjudul Nyanyi Sunyi dari Indragiri dinobatkan sebagai penerima Penghargaan Utama Ganti Award yang diselenggarakan oleh penerbit Gurindam Press. Lalu apa yang istimewa dari novel yang setelah dibukukan hanya setebal 101 halaman ini? Tentunya para juri mempunyai penilaian tersendiri terhadap cerita dalam novel karya penulis berusia 31 tahun itu. Para pembaca juga pasti mempunyai penilaian yang berbeda setelah mengikuti alur cerita dari satu bagian ke bagian lain.

Membaca cerita-cerita yang ditulis oleh Hary B Koriun, kita pasti akan menemukan gaya penulisan dan tema yang khas. Baik dalam cerita pendek maupun novel, tema kepenulisan Hary tidak jauh-jauh dari persoalan asmara yang dikerucutkan lagi kepada kesetiaan. Bukan tema perselingkuhan yang kini banyak digarap beberapa novelis terkemuka. Namun karena arus cerita mengalir dengan indah maka pembaca akan menemukan kekuatan narasi, sehingga pembaca akan terbuai setiap menjelajahi alinea demi alinea. Satu hal lagi yang akhir-akhir ini mewarnai cerita-cerita Hary, adalah persoalan lingkungan––terutama hutan dan sungai.

Dalam Nyanyi Sunyi dari Indragiri, tema cerita terlihat kompleks. Novel ini menceritakan seorang lelaki bernama Kalid Ahmadsyah yang menyimpan api dendam terhadap Dedi Chandra (DC), taipan dalang kerusakan hutan. Kalid yang menjadi tokoh utama dalam cerita ini dilukiskan Hary sebagai seorang pemuda suku asli yang tinggal di pedalaman. Alam telah membentuk Kalid sebagai seorang jantan yang tidak pernah menyerah menghadapi prahara kehidupan. Seorang sarjana hukum yang akhirnya menjadi korban ketidakadilan. Hary juga mentakdirkan Kalid sebagai lelaki yang tak pernah ‘mati’ hingga akhir cerita.

Selain Kalid masih ada dua tokoh cerita yang ditonjolkan oleh Hary; seorang pengacara sebuah LBH bernama Alia, dan Sarah yang notabene wanita simpanan DC. Dua orang wanita ini memang tidak pernah muncul bersamaan dalam sebuah cerita karena merupakan tokoh dalam dua bagian yang berbeda. Selanjutnya pembaca akan diajak untuk bertualang dari rimba ke rimba dan dipancing hanyut dalam suasana yang sekarang ini sebenarnya menjadi persoalan serius di Riau. Kerusakan hutan menjadi jantung dalam cerita ini, sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi pembaca untuk menafsirkan muatan-muatan realis dalam novel ini.

Konflik bermula saat Kalid membakar base camp milik PT Riau Maju Timber yang beroperasi di sekitar daerah Rimbo Pematang, dimana masyarakatnya banyak menderita akibat eksplorasi hutan yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Dampaknya banjir tiap tahun menenggelamkan kampung-kampung sepanjang aliran Sungai Indragiri, lalu kemarau membakar dan mengeringkan sawah ladang. Hingga suatu ketika banjir bandang menerjang rumah dan menghanyutkan abah Kalid. Kematian seorang ayah semakin menyalakan api dendam yang tumbuh di dada Kalid. Amarah itu ibarat pemantik api untuk segera membakar dan mengakhiri sepak terjang perusahaan yang mendapatkan lisensi sebagai pemegang HPH dari pemerintah. Hingga suatu malam bangunan dalam base camp menyala, ada api yang membakar, seperti dada Kalid yang dibakar dendam.

Seperti biasa, hukum selalu memberi sanksi kepada akibat tanpa mempedulikan sebabnya. Potret pengadilan yang identik dengan permainan uang digambarkan Hary dengan terlemparnya Kalid di penjara. Kemudian berturut-turut dalam cerita ini Hary juga menelanjangi perselingkuhan antara perusahaan dengan para pejabat dan aparat yang membeking. Termasuk bagaimana perusahaan menciptakan opini publik dan image baik dengan memanfaatkan media massa melalui jumpa pers, pendekatan personal dan bagi-bagi kue iklan. Gambaran tersebut memang tidak hanya ada dalam dunia cerita, terlebih Hary yang juga berprofesi sebagai wartawan terlihat jeli melihat dunianya.

Lalu bagaimana dengan drama asmara yang biasanya diceritakan Hary dengan romantis? Alia, tokoh wanita pertama yang muncul di awal cerita agaknya tidak mempunyai peran banyak pada bagian pertama novel ini. Pengacara muda keturunan Tionghoa itu hanya diposisikan sebagai sosok pembela Kalid ketika harus berhadapan dengan hukum. Namun ada pesan positif dari kemunculan Alia, yaitu betapa keadilan harus terbebas dari ras dan perbedaan apa pun. Kalaupun toh ada letupan perasaan ‘aneh’ yang muncul dari tokoh Alia, akhirnya harus menguap seiring perubahan sudut pandang cerita bagian ini. Tokoh Kalid yang sebelumnya diceritakan dari sudut pandang orang kedua dan ketiga, tiba-tiba muncul sebagai orang pertama. Kalid menceritakan dirinya sendiri dengan gaya bertutur.

Hal ini sah-sah saja dalam dunia kepenulisan. Sang pengarang berposisi sebagai dalang yang mengatur setiap peran yang dijalankan tokoh-tokohnya. Justru di sinilah letak kreatifitasnya, sehingga sebuah cerita tidak beku dalam gaya yang kaku. Sebab novelis sebagai pencipta ibarat tuhan bagi ceritanya yang bebas menentukan semuanya. Begitu juga dalam alur cerita yang sengaja ditulis tidak beraturan. Bagi pembaca awam mungkin hal ini merupakan sesuatu yang membingungkan. Bagaimana tidak, setting cerita sering berubah-ubah sehingga terkesan acak-acakan.

Sisi lain yang tidak dilewatkan begitu saja oleh Hary adalah dunia mistis yang identik dengan masyarakat pedalaman. Kisah pengorbanan terhadap Fatimah dan Ipah sebagai persembahan untuk penunggu sungai merupakan penggambaran pola pikir yang masih sangat terbelakang. Gadis lajang berperut buncit dituduh berzina sehingga membuat marah penunggu sungai. Banjir yang merupakan gejala alam karena hutan-hutan habis ditebang dipercaya sebagai kutukan dari penunggu sungai yang marah. Kepercayaan seperti itu memang masih ada dalam pola pikir masyarakat yang terbelakang. Namun hal itu tidak terus menjadi tanda tanya, karena Hary menyelipkan tokoh ustad Mahyudin yang berperan sebagai pencerah suasana. Sehingga Ipah tidak mengalami nasib nahas seperti halnya Fatimah, yang ditenggelamkan hidup-hidup di dasar sungai. Dangkalnya pengetahuan dan masih kentalnya kepercayaan magis membuat tokoh adat setempat membuat keputusan yang tidak beradab. Perut buncit itu sebenarnya sebuah tumor, bukan janin haram seperti yang mereka tuduhkan.

Pada bagian kedua yang memunculkan tokoh bernama Sarah, Hary mulai meletakkan porsi percintaan lebih luas dengan alur yang memabukkan. Kalau bagian pertama lebih banyak bercerita tentang rimba, maka pada bagian ini mulai menjelajah ke kota dan jauh meninggalkan aliran Indragiri yang menjadi sumber cerita. Terlebih sepulang dari penjara, Kalid hanya mendapati uminya dalam gundukan tanah merah di tepi hutan. Perempuan yang paling dicintainya itu meninggal beberapa hari sebelum kebebasannya.

Masalah perburuhan dalam bagian ini ikut menjadi sumber konflik. Hingga pada akhirnya kerusuhan di sebuah perusahaan kertas mengantarkan Kalid dalam sebuah pusaran asmara yang membuatnya hanyut. Adalah Sarah, gadis berambut lurus, berkulit putih, berhidung mancung dan baik hati. Namun nasib buruk telah mengantarkan gadis itu dalam dunia pelacuran hingga menjadi istri simpanan DC. Meskipun akhirnya Kalid ikut terbakar gairah purba yang dilukiskan Hary tidak secara blak-blakan.

Dengan bahasa yang romantis dan kadang meledak-ledak pada awalnya kisah asmara Kalid dan Sarah mampu mengalahkan api dendam yang masih menyala. Namun akhirnya cerita kembali terfokus pada dendam Kalid terhadap DC yang kini berada di dekatnya. Hingga suatu malam Kalid kembali melampiaskan dendamnya seperti ketika dia membakar base camp di hutan dulu. Dalam bagian ini diceritakan, sasarannya adalah beberapa aset milik DC yang tersebar di beberapa tempat di Pekanbaru. Mudah ditebak, Sarah juga harus menanggung akibat dari perbuatan Kalid. Gadis jelita itu dibuat cacat seumur hidup oleh orang-orang DC. Lalu bagaimana dengan Kalid?

Mungkin di sinilah letak kelemahan (atau mungkin kekuatan?) dalam cerita ini. Hary tidak menulis ending cerita dengan baik, bahkan terkesan dangkal dan dipaksakan. Setelah membalaskan api dendamnya Kalid dibiarkan pergi begitu saja. Sehingga novel ini terkesan sebagai cerita yang tak sampai selesai. Hanya epilog singkat yang menggambarkan sang tokoh utama sebagai orang yang putus asa, dan lari dari kenyataan. Jauh dari watak tokoh utama yang sejak awal cerita ini digambarkan sebagai sosok yang tangguh.

Tentang hal ini juga diakui oleh Alang Rizal dalam tulisan pertanggungjawaban juri. Alang yang salah seorang dewan juri tidak menafikan, bahwa novel pilihan terbaik ini pun memiliki kelemahan-kelemahan di antaranya yaitu kekuatan bahasa (pengungkapan sastra). Bagian-bagian awal begitu mengalir ternyata mengalami penurunan sampai cerita tamat. Konflik yang dibangun pun sampai penyelesaian tidak dapat dipertahankan pengarang dengan baik sehingga membaca novel tersebut tak begitu terkesan “denyutnya”. Ini menandakan karya novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri dalam penyelesaiannya terkesan dipaksakan.

Meskipun begitu, novel Nyanyi Sunyi dari Indragiri karya Hary B Kori’un ini merupakan karya besar yang mampu menampilkan tema lingkungan dengan penggambaran yang dahsyat. Setidaknya pembaca diajak untuk melihat realitas di tengah masyarakat Riau dengan kaca mata fiksi. Terlebih lagi Hary mampu meramu api dendam yang menyala dan api asmara yang memabukkan dalam sebuah cerita yang mempesona.***

M Badri.Peminat dan penikmat sastra, tinggal di Pekanbaru
Tulisan Ini merupakan ulasan terhadap Novel Nanyi Sunyi dari Indragiri karya Hary B Kori'un yang diterbitkan Gurindam Press (2004)
Oleh M Badri

Membaca rubrik Budaya Riau Pos edisi Ahad dalam tiga pekan terakhir (6, 13, dan 20 Februari 2005) saya seperti melihat suasana lain di tengah ‘keheningan’ sastra Riau. Praktis ini merupakan perdebatan kreatif yang baru muncul lagi sejak beberapa bulan lalu, saat Syahrul Tombang menulis esai “Sastra, Sebuah Agama Baru (?)” dan melahirkan polemik di media massa. Tradisi ini sangat positif dilakukan karena dapat memunculkan pemikiran-pemikiran baru dalam perkembangan sastra di Riau. Sebab gairah sastra sedikit banyak terbentuk dari berbagai diskusi––terlepas apa pun mediumnya.

Membaca tiga buah esai secara berturut-turut yang saling terkait secara tematik, membuat saya tergelitik untuk ‘latah’ menanggapi beragam pemikiran yang telah tersaji. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa peran media massa sangat besar untuk melahirkan sastrawan dan karya sastra. Mungkin itulah yang mendasari tulisan Hary B Koriun dalam esai “Simbiosis Mutualisme antara Sastra dan Media Massa” yang mengatakan bahwa hubungan karya sastra dan media massa di Indonesia, merupakan fenomena unik yang merupakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme).

Kenyataannya memang demikian, media massa lebih dekat dengan pembaca dibanding dengan media lain. Sebab pengakuan kualitas (?) karya sastra tetap tergantung kepada penilaian publik pembaca. Bahkan pernah terjadi suatu karya sastra dianggap tidak pernah ada atau berhenti diterbitkan karena mendapat protes dari pembaca. Maka tidak heran bila banyak penulis selalu mengikuti keinginan pembaca supaya laku di pasaran. Seperti fenomena mutakhir sastra Indonesia saat ini, yang sedang dilanda demam teenlit dan chicklit, yang menurut bahasa Arswendo Atmowiloto disebut sebagai “sastra jerawat” yang muncul di ruang dan waktu sesaat seperti tumbuhnya jerawat.

Kembali kepada masalah hubungan ‘intim’ antara sastra dan media sastra, saya menilai (secara subyektif) tidak perlu ada pengkotak-kotakan media massa. Sebab semua bentuk publikasi bisa disebut sebagai media (untuk) massa. Kalau memang demikian apa perlu lagi kita membahas sastra koran? Toh, kenyataannya hampir semua media massa besar––termasuk Riau Pos––mempunyai media online yang menampilkan karya sastra dalam multimedia. Sehingga perbincangan sastra koran menjadi tidak menarik lagi bila kita melihat perkembangan saat ini. Menurut hemat saya biarkanlah sastra dibicarakan secara ‘telanjang’ tanpa mempersoalkan jubahnya (baca: media) baik itu koran, majalah, internet, buku, dan sebagainya. Sebab sastra sendiri juga bisa selalu berganti-ganti media, sebagai contoh tidak sedikit karya sastra yang dimuat di koran kemudian juga dipublikasikan secara online dan dibukukan.

Setelah membaca esai Pandapotan MT Siallagan “Kembali Memperbincangkan Sastra Koran” dan mengajak sastrawan Riau untuk memperbincangkan sastra koran, saya menilai ide ini sudah terlambat untuk dibicarakan saat ini. Memang tidak dapat dipungkiri kalau sebagian besar sastrawan tumbuh dan berkembang dari media koran. Tapi saya tidak sepakat bila disebutkan fakta bahwa sastra dan sastrawan Indonesia hari ini adalah sastra dan sastrawan koran. Dengan pernyataan seperti itu saya menilai Pandapotan terlalu mengkerdilkan media lain semisal buku dan cyber (lebih enak ditulis: saiber). Mengingat ruang pembaca media koran masih terbatas dalam cakupan wilayah koran tersebut diterbitkan. Mungkin beberapa waktu lalu saya tidak akan pernah mendapat e-mail dari sahabat peminat sastra di belahan bumi lain setelah mengakses situs www.riaupos.com, bila Riau Pos sebagai koran lokal tidak mempublikasikan karya sastranya secara online. Meskipun dengan jumlah pembaca terbanyak, tetapi media cetak (koran) tetap tidak bisa menembus ruang dan waktu.

Munculnya berbagai mailinglist sastra juga tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Begitu juga dengan berbagai situs ‘amatiran’ yang dibuat banyak orang dan dapat dengan mudah diakses oleh siapa saja di mana saja. Di media tersebut orang bebas memunculkan karyanya untuk dibaca tanpa harus berhadapan dengan tangan besi ‘kediktatoran’ redaktur budaya. Bukankah orang menulis karya sastra memang untuk dibaca siapa saja? Dan semua penulis pasti bangga bila karyanya dibaca orang, apalagi kalau kemudian dipuja (atau) dicerca. Sebagaimana esai Binhad Nurrohmat “Mencari Mutiara dalam Tumpukan Sampah Saiber” yang pernah dimuat Republika (maaf lupa tanggalnya), dia menuliskan bahwa, “medium komunikasi teks sastra ini di luar dugaan ternyata ‘merangsang’ banyak orang menulis atau mengirimkan teks sastra. Sejumlah nama penulis baru (yang masih a-historis) bermunculan, termasuk beberapa dedengkot penulis senior yang populer. Barangkali, situs sastra saiber ibarat alun-alun raksasa yang nyaris tak mustahil menghimpun siapa pun dan sebanyak apa pun nafsu untuk menulis. Lalu lahir komunitas sastra saiber. Sastra saiber sepintas mencerminkan getaran ‘sihir’ yang merangsang eforia menulis, menciptakan ruang demokratisasi menulis yang tak terkirakan kadar kebebasaannya. Sastra saiber kemudian menjadi ekologi teks yang rimbun dan ramai di balik kemayaan yang dingin dan misterius itu.”

Walaupun demikian, dalam perjalanan ‘demokratisasi menulis’ media saiber sering dianggap sebagai media sastra yang ibarat ‘tong sampah’. Pendapat ini muncul karena media ini memuat berbagai bentuk karya sastra tanpa proses seleksi sehingga menyebabkan hancurnya ‘moralitas’ menulis yang ditandai dengan munculnya teks-teks liar tidak bertanggungjawab. Kalau estetika karya sastra diukur dari ‘moralitas’ teks, lalu bagaimana dengan karya-karya ‘panas’ Djenar Maesa Ayu, Hudan Hidayat dan sebagainya yang muncul di koran-koran besar semisal Kompas, Koran Tempo dan Media Indonesia yang (katanya) telah melalui seleksi dengan ketat? Melihat hal ini saya beranggapan bahwa sastra saiber sebagai bentuk alternatif atau perlawanan terhadap arogansi sastra koran dengan selera subyektif redakturnya semata.

Tapi saya mengingatkan jangan pernah berharap mendapat honorarium dari penerbitan karya sastra di media saiber. Sebab sastra saiber umumnya muncul bukan sebagai ‘media kapitalis’ yang mendapatkan keuntungan dari penerbitan karya sastra itu. Bahkan tidak sedikit yang gulung tikar karena tidak ada founding dan pengelola yang setiap saat mau berprofesi sebagai ‘pekerja sosial’ di bidang sastra. Itulah kelemahannya, sehingga koran tetap menjadi media terdepan karena secara ekonomis relatif lebih menjanjikan bagi kreativitas sastrawan. Sebab motif menulis bagi sebagian besar sastrawan tetap untuk mendapatkan honorarium (yang layak).

Sastra, Media dan Ukuran Kualitas
Keragaman bentuk media yang bisa dijadikan sarana publikasi karya sastra akan memberikan warna baru bagi perkembangan sastra itu sendiri. Namun seperti saya singgung di bagian awal tulisan ini, kita tidak perlu memilah-milah istilah untuk berbagai media sastra tersebut. Karena setiap saat media sastra selalu berkembang mengikuti perjalanan teknologi mutakhir. Beberapa abad lalu sebelum ada media berbentuk teks, orang mempublikasikan sastra secara lisan dari mulut ke mulut atau lazim disebut dongeng. Setelah ada kertas maka sastrawan mengapresiasikan karya sastranya ke dalam teks, melalui buku-buku dengan tulisan tangan, kemudian cetak (printing). Setelah ada penerbitan koran, maka kesempatan untuk mempublikasikan karya sastra semakin terbuka lebar. Hingga kini muncul berbagai media baru seperti internet dan compac disc. Lalu apakah perlu melakukan pengelompokan sastrawan dan karya sastra sesuai dengan bentuknya?

Kalau demikian tentu saja nanti akan muncul istilah sastra(wan) buku, sastra(wan) koran, sastra(wan) saiber, hingga sastra(wan) compac disc, atau entah istilah apa lagi. Tentu saja pengistilahan seperti ini hanya akan menimbulkan beragam persepsi tentang sastra yang mengarah pada perdebatan tidak menguntungkan. Padahal hubungan simbiosis mutialismenya tetap sama. Lalu kalau kita harus berbicara masalah kualitas sastra di berbagai media tersebut tetaplah tidak akan mendapatkan jawaban yang sama. Sebab ukuran kualitas adalah sesuatu yang relatif dan subyektif. Dan semua orang mempunyai hak untuk menentukan kualitas karena tidak ada batasan-batasan penilaian. Begitu juga dengan redaktur budaya di media massa, tentu ukuran kualitas dari semua media tidak akan pernah sama bila orangnya juga berbeda.

Namun walaupun demikian, sebagaimana disebutkan Marhalim Zaini dalam esai “Sastra atau Media Massa yang Mandul (?)”, peran para redaktur budaya kita––baik yang kompeten maupun tidak kompeten––sesungguhnya sangat besar dalam ikut memberi arah, menentukan spektakel, dan menurunkan tulisan-tulisan yang berkualitas, dan dapat membaca secara cermat orisinalitas (tidak plagiasi) dari tulisan yang akan dimuat. Karena media massa yang sekaligus berperan dan dipercaya sebagai penjaga gawang kebudayaan harus lebih mengetengahkan obyektivitas daripada sebuah pembacaan yang sekilas. Pada posisi ini sastra dan media massa dapat duduk berdampingan dan saling membutuhkan.

Dalam konteks hubungan yang demikian, maka terciptalah sebuah simbiosis mutualisme yang dimaksudkan Hary B Koriun di mana media (apa pun bentuknya-pen) tetap merupakan sebuah tempat yang diperlukan oleh para penulis untuk mengaktualisasikan diri dan karyanya, sementara media juga membutuhkan karya sastra tersebut sebagai sebuah simbol dari intelektual. Karena media membutuhkan hal ini sebagai sebuah legitimasi, atau istilah kasarnya bahwa media tersebut juga ingin disebut sebagai media yang berbudaya.

Tentu saja kalau harus berbicara kualitas yang subyektif, kita tidak perlu membelah tubuh sastra menjadi berbagai macam bentuk menurut medianya. Karena bukan berarti kualitas sastra saiber lebih buruk dari sastra koran atau buku, begitu juga sebaliknya. Sebab media tetaplah media, yang selalu berubah setiap ada penemuan baru. Dan biarkan sastra berjalan mencari medianya sendiri. Karena apa pun medianya, tetap mempunyai kelebihan dan kekurangan. Sehingga nantinya tidak ada istilah sastra koran, sastra saiber dan sastra sebagainya...***

M Badri. Peminat dan penikmat sastra
Wednesday, June 28, 2006

Apa yang Anda Cari di Rimba Pers Mahasiswa?

Oleh M Badri**


Pers bisa saja jadi sesuatu yang baik atau buruk,
namun tentu saja tanpa kebebasan pers, pers hanya akan jadi buruk

(Albert Camus, Filsuf, 1913-1960)

Tidak salah apa yang dikatakan filsuf di atas, bahwa pers bisa menjadi sesuatu yang baik atau buruk. Tergantung misi orang-orang pers tersebut, untuk menyuarakan kepentingan apa dan siapa (?). Di sinilah pekerja pers dihadapkan pada dua sisi mata pena yang masing-masing bisa menghancurkan. Lalu siapkah Anda sebagai pemegang pena memilih posisi mana, di tengah kebebasan pers yang nyaris tiada batas ini? Maka ketika Anda bergabung dengan pers mahasiswa, Anda akan banyak belajar bagaimana melihat dunia dengan kaca mata intelektual. Tulisan ini bukan makalah atau materi yang bersifat menggurui. Ini hanyalah catatan perenungan bagi Anda yang akan memasuki rimba pers mahasiswa dalam sebuah petualangan yang melelahkan.

Anda Beruntung Mengenal Pers Mahasiswa (Persma)

“Lho kok beruntung, Mas?” Tanya seorang teman suatu ketika. Jawaban saya simpel: sebab Anda akan memasuki rimba belantara (baca: organisasi kampus tempat menempa pikiran kritis para aktivis mahasiswa, sering juga disebut kawah candradimuka) lain dari yang lainnya. Sesuatu yang mungkin tidak Anda kenal sebelumnya. Sesuatu yang mungkin Anda anggap sepele. Sesuatu yang mungkin Anda anggap remeh. Sesuatu yang mungkin juga Anda anggap menakutkan. Dan banyak lagi sesuatu yang tidak akan pernah Anda ketahui sebelum Anda ikut berpetualang di dalamnya. Hal itu sama seperti yang saya alami ketika pertama kali mengenal persma. Banyak sekali pertanyaan yang menyelimuti benak saya yang kala itu masih terbilang innocent di dunia kampus, pengetahuan minus tentang organisasi. Sebab itulah saya mencoba (sekali lagi sekadar mencoba) alias ikut-ikutan masuk ke dalam persma. Mengikuti diklat jurnalistik dasar selama tiga hari satu malam, wuihhhh..... jenuhnya! Dijejali beragam materi diklat yang masih kita anggap aneh. Akhirnya hanya mendapatkan lelah sebab hampir semua materi hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Saya yakin hal ini juga akan Anda alami........

Lalu dengan kejenuhan itu apakah kita akan berhenti? Dan dengan selembar sertifikat diklat jurnalistik dasar sebagai upah mendengarkan materi diklat selama tiga hari satu malam, kita merasa sudah menjadi mahasiswa ‘hebat’? Sehingga tidak perlu lagi menambah wawasan dan ilmu? Hanya orang yang berpikiran kerdil, mudah puas dengan keadaan, dan tidak ingin maju saja yang melakukan hal itu. Sebab waktu tiga hari tidak cukup untuk membuka mata kita dan melihat seperti apa sich dunia jurnalistik itu sesungguhnya. Untuk mendapatkan jawabannya maka saya kembali ikut-ikutan (sekali lagi ikut-ikutan) masuk sebagai bagian dari tim redaksi persma, hanya dengan modal semangat saja. Mengapa saya sebut sebagai tim? Karena di redaksi persma tidak ada gunanya kita menonjolkan kekuatan individu. Kerja dalam timlah yang mengajarkan kepada kita bagaimana belajar hidup dalam sebuah kelompok yang masing-masing beranggotakan individu dengan beragam pemikiran berbeda. Bukan sekadar teknik menulis, teknik memburu berita dan beragam teknik lainnya (meskipun sebenarnya teknik itu tidak akan Anda dapatkan di jurusan Anda kuliah). Pada konteks ini saya berpikir, masuk ke dalam persma seperti kuliah di satu jurusan tapi mendapatkan dua disiplin ilmu sekaligus. Yang satu ya itu tadi: ILMU JURNALISTIK PRAKTIS.

Tahun pertama memang menjadi hari-hari menjenuhkan di persma. Belum punya status alias magang, tiap hari disuruh wawancara ini itu, nulis ini itu, dan segudang tetek bengek lainnya. Memang begitulah hidup di rimba: siapa yang kuat (secara mental) dialah yang akan bertahan. Dan ini menjadi pelajaran berarti bagi saya, meskipun pernah hampir go out tetapi akhirnya mampu bertahan beberapa tahun dan menjadi ‘penguasa rimba’, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Beberapa rekan seangkatan diklat, satu per satu mulai mundur karena tidak tahan menapaki semak belukar, rawa-rawa dan lolongan binatang buas sebagaimana kita berada di tengah rimba belantara. Akhirnya beberapa tahun kemudian, apa kata mereka?: SAYA MENYESAL, MENGAPA DULU KELUAR DARI PERSMA. Nah!

Penyesalan memang selalu datang belakangan. Terlebih bila mereka mengetahui bahwa orang-orang yang bertahan telah mendapatkan ‘madu’ dari kerja keras mereka selama ini. Untuk itulah penyesalan mereka semoga menjadi pelajaran berharga bagi Anda semua yang baru saja memasuki pintu gerbang rimba belantara persma. Sebab saya yakin Anda semua adalah orang-orang yang mempunyai jiwa petualang dan selalu ingin tampil inovatif. Kalau tidak, mengapa Anda harus repot-repot ikut mendaftar diklat jurnalistik? Lebih baik tidur siang di rumah dan mimpi indah. Tapi apakah hidup hanya cukup dengan mimpi? Meskipun kadang mimpi itu penting untuk merencanakan visi kita ke depan. Karena itulah saya berpikir: Anda semua yang mengikuti diklat jurnalistik adalah mahasiswa yang bermental baja dan tidak akan mundur sebelum mendapatkan ilmu yang Anda cari. Ini mungkin sebuah tantangan sederhana yang akan Anda jawab sendiri: KALAU SAYA BERHENTI DI TENGAH JALAN BERARTI SAYA TERMASUK ORANG-ORANG KALAH YANG MUDAH MENYERAH DAN TIDAK INOVATIF. Itu bukan jawaban dari saya, tetapi Anda sendiri yang akan mengatakannya nanti. Maka kalau tidak ingin mengalami penyesalan seperti rekan saya beberapa tahun lalu, Anda harus membuktikan kepada diri sendiri bahwa Anda adalah seorang petualang. Karena pada hakikatnya hidup itu sendiri adalah bagian dari petualangan, di mana hasilnya akan kita dapatkan di alam akhirat nanti.

Apa yang Anda Cari?

Itu adalah pertanyaan sederhana. Setiap orang pasti mempunyai jawaban berbeda ketika diberi pertanyaan tersebut. Apa yang saya cari? Yah, apa yang akan saya dapatkan ketika saya harus bertungkus lumus di rimba persma. Anda semua pasti mempunyai pertanyaan seperti itu kepada diri sendiri, ketika pertama kali membaca pengumuman pendaftaran diklat jurnalistik. Setelah menemukan gambaran sekilas maka Anda segera mendaftar. Dan masih dengan ketidaktahuan Anda, sekarang ini tanpa sadar Anda sudah berada di gerbang rimba persma. Bila sudah menemukan gambaran tentang apa yang akan Anda cari dari kegiatan ini, maka Anda termasuk yang beruntung. Sebab tidak sedikit yang awalnya hanya ikut-ikutan tanpa mempunyai harapan yang jelas, ya seperti saya dulu misalnya. Baru kemudian sesudah beberapa langkah masuk ke dalam mulai menemukan gambaran: OH, TERNYATA INI YANG SAYA CARI!

Tentu saja ada berbagai macam motivasi mengapa Anda mengikuti kegiatan ini. Tetapi pada dasarnya semua pasti ingin tahu lebih dulu. Secara garis besar dapat saya gambarkan tujuan Anda tersebut dalam bagan berikut ini:

Maaf bagan tidak bisa ditampilkan

Melihat bagan tersebut tentu saja Anda tahu sekarang ini berada pada posisi yang mana. Dan untuk mendapatkan jawabannya Anda harus berada di dalamnya, sebab tidak cukup bila Anda hanya melihat dari luar atau melongok dari tepinya saja. Saya hanya mengatakan Anda tidak akan menyesal berada di dalam rimba persma. Dari sanalah Anda akan mengetahui apa itu idealisme yang menjadi jantung kehidupan persma. Bagaimana Anda harus bekerja dalam sebuah tim, dituntut berpikir kritis tapi tidak anarkis. Bagaimana proses transformasi ilmu, sehingga Anda akan mendapatkan berbagai ilmu jurnalistik (reportase, penulisan, fotografi, desain grafis, periklanan dan sebagainya) yang tidak akan pernah Anda dapatkan di bangku kuliah kecuali bila Anda kuliah di Jurusan Jurnalistik atau Ilmu Komunikasi.

“Lalu bagaimana bisa menguasai semuanya, Mas?” Pertanyaan seperti itu pernah dilontarkan salah seorang junior di persma. “Anda harus aktif dan proaktif!” kata saya. “Maksudnya?” Dia masih bingung. Karena merasa perlu untuk memberikan kunci jawabannya, akhirnya saya katakan: “Anda harus menjadi orang pertama yang menyelesaikan tugas, dan jangan sekali-kali melalaikan tanggungjawab alias tidak amanah. Sebab dari sanalah transformasi ilmu itu berproses, karena keberhasilan Anda berada di tangan Anda sendiri. Anda pelajari apa yang ada di persma maka Anda akan berhasil menggali ilmu sampai sedalam-dalamnya.” Dia manggut-manggut, tapi malah curhat, “Saya sering jenuh di sini Mas, belum lagi tugas-tugas kuliah. “Anda akan jenuh kalau hanya diam dan tidak berbuat apa-apa, apa lagi kalau hanya sekali-sekali datang ke kantor persma, nongkrong sambil nonton, ogah belajar, ogah membaca dan satu ransel ogah-ogahan lainnya. Saya kira kuliah tidak akan terganggu kalau Anda bisa membagi waktu dengan baik. Apa dengan kuliah saja Anda sudah merasa pintar?”. “Iya sih...” Dia langsung ngacir ke ruang komputer sambil membawa beberapa majalah dan buku. Kadang saya sebal juga kalau mendengar kata ‘kuliah’ masih menjadi alasan yang menyebabkan mahasiswa pasif. Sebab menjadi mahasiswa saja tidak cukup, karena sekarang ini dunia kerja mencari fresh graduated yang mempunyai wawasan dan pemikiran luas serta mampu berinteraksi dalam tim. Tentunya hal itu hanya dipenuhi mahasiswa yang aktif berorganisasi (apa pun). Itu pendapat saya pribadi lho? Tapi Anda bisa membuktikannya nanti.

Kembali ke masalah persma. Anda masuk ke dalam rimba persma bukan berarti selesai kuliah Anda wajib menjadi wartawan. Tidak harus! Meskipun arah untuk menuju ke sana terbuka lebar, sebab rata-rata media massa di daerah maupun nasional selalu mengutamakan mereka yang pernah aktif di persma. Banyak hal yang bisa mendukung cita-cita Anda di kemudian hari, embrionya berasal dari persma. Apa pun bidang yang akan Anda geluti, Insya Allah dengan kematangan wawasan Anda ketika berada di persma, Anda akan menjadi orang yang diprioritaskan. Kenapa demikian? Karena di persma Anda akan dibiasakan bergaul dan mengenal karakter orang-orang yang menjadi stakeholders. Dari sanalah Anda mempunyai manajemen bagaimana mengelola lingkungan sekitar menjadi sebuah kekuatan yang akan mendukung karir Anda. Bagaimana mengelola perbedaan menjadi kekuatan yang mempersatukan. Apalagi kalau Anda memang benar-benar ingin menjadi wartawan, dunia pers saat ini membutuhkan alumni-alumni persma. Sehingga jangan takut tidak mendapat pekerjaan setelah tamat nanti. SEMUA TERGANTUNG ANDA!

Belajar Maka Anda Bisa!

Pepatah itu sejak kecil lekat dengan kita. Sebagai contoh, sewaktu kita ingin sekali bisa naik sepeda maka kita harus rajin belajar. Tahap demi tahap, meskipun harus sering jatuh bangun dan badan lecet. Tapi itulah dinamika yang harus kita lalui. Begitu juga bila Anda ingin mendapat ‘madu’nya persma, maka Anda harus belajar! Setidaknya kalau Anda sudah berada di persma, maka Anda akan menjadi wartawan kampus. Suatu predikat yang membuat Anda dianggap ‘serba tahu’ oleh mahasiswa lainnya, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian. Untuk itulah membaca adalah menjadi kegiatan wajib yang harus Anda lakukan ketika Anda berada di rimba persma dan menjadi petualang di ranah berita. Setidaknya ada lima modal dasar yang harus Anda ketahui untuk menapaki rimba persma. Pertama adalah kejujuran. Tanpa kejujuran bagaimana wartawan bisa melihat fakta dengan jelas? Kedua, harus dapat menyajikan berita secara akurat. Ketiga, harus melakukan cek dan ricek atas berita yang telah ditulis. Keempat, berpikiran terbuka. Seorang wartawan harus selalu berpikiran terbuka dan mau menerima pendapat orang lain. Kelima, tanggungjawab. Tanggung jawab harus selalu ada atas setiap berita yang dimuat karena berita tersebut dapat mempengaruhi orang banyak. (REPUBLIKA, 13 Juli 2003).

Kelima hal di atas dapat dianalogikan sebagai peralatan yang akan membantu Anda mencapai tujuan ketika Anda berada di rimba persma. Sebab hitam putih langkah Anda ke depan nanti yang akan menentukan adalah Anda sendiri. Amartya Sen, pemenang nobel bidang ekonomi 1998, dalam artikel eksklusif “Apa Pentingnya Kebebasan Pers?” untuk World Association of Newspaper (WAN) pada Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3 Mei, mengatakan “Pers dapat mengganggu dan menyerang lewat laporan yang dipelintir, dan dia juga dapat merusak hidup dengan melanggar wilayah pribadi seseorang. Tetapi kebebasan pers penting untuk beberapa alasan penting yang berbeda, dan adalah berguna untuk memilah masing-masing kontribusi-kontribusinya. Pertama––dan barangkali paling mendasar––berhubungan dengan kontribusi langsung pada kemerdekaan berbicara pada umumnya dan kebebasan pers pada khususnya terhadap kualitas hidup kita” (KORAN TEMPO, 2 Mei 2004).

Itulah salah satu alasan mengapa Anda saya katakan beruntung mengenal persma. Di rimba persma inilah Anda akan dididik menjadi aktivis pers yang bermoral, sehingga dapat melihat mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang dilarang. Sebab kran kebebasan selalu menimbulkan beragam dampak positif dan negatif. Dengan belajar maka Anda akan tahu kode etik yang mengarahkan Anda pada rambu-rambu yang tidak boleh dilanggar. Lalu bagaimana dengan disiplin ilmu lain? Semisal desain grafis, penulisan kreatif , periklanan dan sebagainya? Anda akan mendapatkannya dengan belajar! Semua fasilitas tersedia, tergantung bagaimana Anda memanfaatkannya. Tetapi tentu saja Anda harus menumbuhkan spirit bagaimana persma ini sebagai rumah Anda sendiri. Di mana Anda harus menjaga dan membesarkannya. Di mana masa depan persma setelah Anda selesai nanti juga menjadi tanggungjawab Anda. Sikap memiliki itulah yang akan mengantarkan Anda menjadi orang yang berhasil dalam karir organisasi di persma. Dan sekarang ini persma yang akan Anda masuki adalah AKLaMASI.

Begitu masuk beberapa langkah ke dalam rimba AKLaMASI, Anda nanti akan menemukan orang-orang yang memiliki kebebasan berekspresi. Anda yang sebelumnya tidak tahu apa-apa dengan bahasa, tidak mustahil akan menjadi penulis hebat setelah berinteraksi dengan mereka. Anda yang sebelumnya buta dengan komputer, tidak mustahil akan menjadi desainer grafis yang saban hari ‘berkencan’ dengan mahluk dari dunia elektron tersebut. Anda yang sebelumnya malu berhadapan dengan orang, tidak mustahil akan menjadi negosiator berpengaruh. Itu semua akan Anda dapatkan bila Anda rajin belajar dengan semangat: SAYA HARUS BISA!

Percayalah bila Anda sudah mendapatkan ‘madu dari petualangan Anda di rimba persma ini, maka Anda akan merasa kehilangan ketika harus meninggalkannya. Seperti ketika Anda harus meninggalkan rumah dengan orang-orang yang sangat Anda sayangi. Orang-orang yang membuat hidup Anda lebih hidup (meminjam slogan Star-Mild). Sebab di sini Anda akan mendapatkan keluarga baru di rumah baru, fakultas baru, jurusan baru, dan tempat nongkrong baru. Anda tidak akan merasa kesepian saat berpetualang di rimba persma. Anda tidak akan merasa sendirian ketika mendapat rintangan. Anda tidak akan merasa ketakutan ketika mendapat ancaman. Anda tidak akan merasa kecil di hadapan orang-orang besar. Karena Anda berada di antara orang-orang yang mempunyai semangat besar. Dan untuk menjadi orang yang berhasil maka Anda harus membayar mahal dengan ikut bertungkus lumus dan terlibat dengan berbagai kegiatan jurnalistik yang mereka lakukan. Anda pasti akan merasa senang ketika tulisan yang Anda hasilkan dengan kerja keras dibaca orang. Anda pasti akan merasa ‘bagaimana gitu’ ketika Anda sebagai orang yang sebelumnya tidak mengerti apa-apa ternyata bisa membuat koran. Sanggup menghasilkan suatu produk media cetak bersama tim Anda yang sebenarnya masih sama-sama belajar. Maka dengan bangganya Anda (mungkin) akan membawa koran yang Anda buat sendiri itu ke rumah Anda di kampung, lalu Anda tunjukkan kepada orangtua Anda hasil kerja keras tersebut. Maka orangtua Anda juga akan bangga dengan Anda. Dalam hati mungkin mereka akan berkata: KAMI BANGGA DENGAN ANAK KAMI! DIA TELAH SELANGKAH LEBIH MAJU DARI KAMI, SEMOGA KELAK MENJADI ORANG YANG BERHASIL!

Kata-kata itu sangat sederhana sekali. Tapi kebanggaan dari orangtua bisa menjadi doa yang mengiringi kita dalam menapaki jalan terjal kehidupan. Bagaimana kekuatan doa dari kedua orangtua kita menjadi cambuk bagi kita untuk terus bersemangat menjalani hidup. Maka sekali lagi saya menekankan kepada Anda mahasiswa yang beruntung: TUNJUKKAN KEPADA DUNIA BAHWA ANDA ADALAH ORANG-ORANG YANG INOVATIF. JANGAN BERHENTI DI TENGAH JALAN SEBELUM ANDA MENDAPATKAN ‘MADU’ DARI PETUALANGAN ANDA DI RIMBA PERSMA. JANGAN MENYERAH TERHADAP SEMAK BELUKAR, RAWA-RAWA DAN LOLONGAN BINATANG BUAS SEBAGAIMANA ANDA BERADA DI TENGAH RIMBA BELANTARA. SAYA YAKIN ANDA BUKAN ORANG-ORANG YANG LEMAH SEMANGAT......***


*Tulisan ini disampaikan dalam Diklat Jurnalistik Mahasiswa Dasar se-Riau 2005. Tabloid Mahasiswa AKLaMASI Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Maret 2005.

*Penulis adalah mantan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Tabloid AKLaMASI.